Bappenas Sebut Masyarakat Indonesia Rentan Miskin saat Krisis Ekonomi
Zulhamdi Yahmin
Jakarta
RILISID, Jakarta — Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, mengatakan, kemiskinan di Indonesia rentan mengalami peningkatan saat terjadi krisis ekonomi. Untuk itu, katanya, Indonesia harus bebas dari krisis ekonomi untuk menjaga angka kemiskinan tetap rendah.
"Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi pada tahun 1998 dan menyebabkan angka kemiskinan anjlok. Setelah 20 tahun reformasi 1998, pemerintahan Jokowi-JK berhasil menurunkan angka kemiskinan hingga mencapai satu digit, tepat di angka 9,85 persen," katanya saat diskusi di kawasan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (30/7/2018).
Bambang kemudian membeberkan strategi pemerintah dalam menurunkan angka kemiskinan, yakni dengan melakukan integrasi program seperti pelaksanaan perlindungan sosial didasarkan pada pendekatan siklus hidup. Selain itu juga mendorong pengembangan pelayanan satu pintu dan implementasi bantuan sosial non-tunai.
"Studi empiris menunjukkan kalau kita mengintegrasi program-program kemiskinan, maka tingkat kemiskinan dapat turun sebanyak dua persen. Sekarang tingkat kemiskinan kita sepuluh persen, harusnya bisa jadi delapan persen. Harus ada upaya pengintegrasian supaya penurunan kemiskinan lebih cepat," ujarnya.
Strategi lainnya adalah dengan perluasan bantuan sosial non-tunai yang harus dipastikan berjalan tepat waktu, mengarahkan bantuan pangan non-tunai (BPNT) untuk memperbaiki pola konsumsi pangan masyarakat, serta padat karya tunai untuk warga kurang mampu.
Bambang kemudian menjelaskan bagaimana BPS menentukan siapa yang hidup di bawah garis kemiskinan dan di atas garis kemiskinan. Garis kemiskinan menunjukkan konsumsi komoditas pangan tertentu yang dinyatakan dengan kalori.
Garis kemiskinan nasional, menurut Bambang, lebih tinggi daripada garis kemiskinan di perdesaan. Sementara garis kemiskinan di perkotaan lebih tinggi daripada garis kemiskinan nasional. Hal itu karena pengeluaran di perkotaan lebih mahal dibandingkan rata-rata nasional dan apalagi dibandingkan dengan perdesaan.
"Kalau kita lihat perkembangan 2014-2017, garis kemiskinan naik karena ada inflasi. Untuk itu, sangat penting untuk menjaga inflasi. Kalau inflasi tidak dijaga dan garis kemiskinan naiknya lebih tajam, maka akan semakin sulit untuk mengurangi kemiskinan," tandasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
