Uang Gaib dan Rendahnya Literasi Keuangan Kita
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Oleh: Tampan Fernando Hasugian
Baru saja muncul sebuah berita yang membuat publik heran. Seorang ibu asal Kalianda, Lampung Selatan, bernama Uun Jubaedah menemui Dedi Mulyadi demi meminta “uang gaib.”
Ia berharap Gubernur Jawa Barat itu mempertemukannya dengan seseorang bernama Ujang Bustomi, sosok yang diyakininya memiliki kemampuan menggandakan uang.
Sekilas, kisah ini terdengar lucu, bahkan menggelikan. Tapi jika kita mau jujur, peristiwa ini bukan sekadar cerita aneh.
Itu adalah potret nyata dari masih rendahnya literasi keuangan di negeri ini, terutama di daerah-daerah, seperti Lampung. Kepercayaan bahwa uang bisa datang secara gaib bukan barang baru di Indonesia.
Dari kisah pesugihan hingga janji investasi berbalut mistik, semuanya berakar pada satu hal: kurangnya pemahaman tentang uang.
Bagi sebagian orang, terutama yang tinggal di desa atau dari lapisan ekonomi bawah, harapan memperoleh rezeki instan terasa lebih realistis ketimbang menabung bertahun-tahun.
Apalagi ketika mereka tidak memiliki akses informasi memadai. Ketidaktahuan itu menjadi celah yang mudah diisi oleh mitos, ilusi, dan janji-janji palsu yang tak masuk akal.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan nasional pada 2024 baru mencapai 65,43 persen.
Lebih rinci, literasi keuangan masyarakat perkotaan mencapai 69,71 persen, sementara di perdesaan hanya 59,25 persen.
Tampan Fernando Hasugian
Opini
Literasi keuangan
OJK Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
