Paham Radikal dan Terorisme Masih Mengancam
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Terakhir kali kasus teroris terjadi pada April 2023 lalu, saat itu Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menembak dua tersangka teroris.
Namun seperti yang disampaikan oleh narasumber, bahwa keadaan yang terkesan kondusif saat ini bukan berarti tidak ada aktivitas terorisme.
Mereka yang anti dengan Pancasila dan NKRI masih terus bergerak dan melakukan ‘perlawanan’. Ada yang berkelompok, ada juga yang single fighter.
Saat ini pemerintah melalui BNPT dan FKPT terus berupaya membina masyarakat yang terpapar radikalisme maupun napiter agar berkomitmen untuk kembali ke NKRI.
Namun menurut si narasumber tadi, yang terpenting adalah pencegahan. Orangtua harus aktif memantau dan mengawasi kegiatan anak-anak, terutama konten media yang dikonsumsi.
Pasalnya banyak anak yang terpapar radikalisme bukan karena pertemuan secara langsung dengan kelompok tertentu. Tapi dari berbagai tontonan Youtube yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja.
Pesan penting lainnya, jangan anti pada keberagaman suku, agama, budaya dan ras, karena itu semua adalah anugerah dari Tuhan YME. Perbedaan tidak boleh dijadikan penghalang, justru jadi semangat dalam merawat kerukunan.
Namun para Orangtua harus terlebih dahulu menerapkan itu, sehingga dapat dicontoh anak-anaknya. Jika orangtuanya saja sudah anti keberagaman, besar kemungkinan si anak akan mengcopas tindak tanduknya dan bisa saja melakukan hal yang lebih parah, seperti aksi teror. (*)
radikalisme
paham radikal
Terorisme
FKPT Lampung
BNPT
keberagaman
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
