Padel Akhiri Pedal
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Sepeda premium yang dulu laris manis, seperti Brompton, kini terpuruk. Produsen sepeda lipat asal Inggris itu sempat meraup untung besar saat pandemi, bahkan harga di Indonesia bisa naik tiga kali lipat. Namun pada 2024, keuntungan mereka anjlok lebih dari 99 persen.
Di berbagai kota, toko sepeda terpaksa gulung tikar karena stok menumpuk lantaran tak laku lagi.
Alat transportasi dengan cara mengayuh pedal itu dulu dibeli dengan penuh antusias, kini lebih banyak terparkir dan berdebu di garasi.
Fenomena ini menunjukkan betapa cepatnya tren bergeser. Sepeda yang dulu dielu-elukan sebagai simbol hidup sehat ternyata tak mampu mempertahankan pesonanya.
Kini giliran padel yang mendapat panggung: dianggap lebih praktis, lebih seru, dan tentu saja lebih “gaul” untuk gaya hidup perkotaan.
Namun pertanyaannya: akankah padel juga akan bertahan lama? Tak ada yang bisa memastikan.
Bisa saja beberapa tahun ke depan muncul olahraga baru yang lebih segar, lebih viral, dan lebih cocok dengan gaya hidup zaman.
Intinya, tren akan selalu datang dan pergi. Pedal (sepeda) pernah berjaya, kini padel sedang meroket.
Besok, siapa tahu muncul olahraga lain yang jadi sorotan. Yang jelas, tren baru akan terus muncul karena manusia juga terus mencari hal baru.
Orang-orang lalu akan beramai-ramai mengunggah kegiatan mereka seputar tren terbaru itu. Bisa karena benar-benar suka, bisa juga hanya sekadar ikut-ikutan agar dianggap relevan dan tak ketinggalan zaman. ***
tren pedal
gowes
penjualan sepeda
opini
Tampan Fernando Hasugian
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
