Padel Akhiri Pedal
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Masih jelas dalam ingatan, olahraga bersepeda mendadak jadi tren di tengah masyarakat saat awal Pandemi Covid-19 di tahun 2020-an lalu.
Kala itu, jalan-jalan raya dipenuhi konvoi sepeda. Komunitas gowes tumbuh di mana-mana.
Toko-toko sepeda juga kebanjiran pembeli. Stok habis, harga melonjak tak masuk akal. Merek-merek premium bermunculan, dibanderol dengan harga fantastis.
Saat itu di salah satu Podcast, saya pernah mewawancarai komunitas gowes seputar tren bersepeda yang lagi hype.
Mereka dengan yakin menyebut bersepeda bakal menjadi gaya hidup baru yang bertahan lama, bukan sekadar tren yang lagi happening.
Namun, euforia itu ternyata hanya sementara. Sejak 2 tahun lalu tren sepeda perlahan meredup, tergeser oleh olahraga baru yang kini sedang naik daun: padel.
Olahraga raket yang mirip tenis tapi dimainkan di lapangan berdinding kaca ini awalnya populer di Jakarta, lalu merambah ke berbagai kota, termasuk Lampung.
Lapangan padel kini menjamur, mulai dari mal, komplek elit, hingga pusat olahraga.
Media sosial dipenuhi unggahan pemain padel, dari foto seusai bertanding hingga outfit stylish yang jadi ajang pamer gaya. Singkatnya, padel sedang jadi primadona baru.
Sementara itu, bisnis sepeda justru “berdarah-darah”. Data Asosiasi Industri Sepeda Indonesia mencatat penjualan sepeda turun hingga 70 persen dalam dua tahun terakhir.
tren pedal
gowes
penjualan sepeda
opini
Tampan Fernando Hasugian
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
