Lampung dan Janji Industri Pertahanan yang Hilang
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Dari cerita itu kita belajar bahwa gagasan besar tanpa peta jalan yang konkret biasanya akan menguap. Terlebih, pemindahan industri pertahanan tentu memerlukan perencanaan lintas sektor dan dana yang besar. Termasuk kesiapan infrastruktur, dukungan SDM, serta jaminan keamanan.
Selain itu, pergantian kepemimpinan politik juga sering kali menggagalkan rencana pembangunan dari pemimpin sebelumnya. Pemimpin baru kerap membawa perubahan arah kebijakan secara total.
Sebagai catatan, di era Ridho ada mega proyek lain yang mulai dibangun tapi dibatalkan oleh Arinal, yaitu pembangunan observatorium teropong bintang di kawasan Tahura Wan Abdul Rachman, Pesawaran.
Selain itu, RTH Taman Gajah di Lapangan Enggal yang menjadi tempat masyarakat beraktivitas juga dibongkar habis dan diganti menjadi masjid.
Lantas, apakah saat ini masih relevan jika wacana pemindahan industri pertahanan dari Jawa ke Lampung dibahas kembali? Jika melihat upaya efisiensi yang sedang dijalankan pemerintah pusat, rasanya tidak.
Karena jangankan membangun pabrik baru, berbagai program yang sudah ada pun banyak yang dipangkas demi penghematan anggaran. Namun yang pasti, Lampung dengan segala potensinya akan selalu siap jika ditunjuk menjadi pusat industri pertahanan tanah air. (*)
Tampan Fernando Hasugian
Opini
industri pertahanan
Lampung
Arinal
Ridho Ficardo
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
