Kalau Mau Mencoba, Jangan Coba-coba
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Itulah sebabnya mengandalkan “iseng-iseng siapa tahu” hampir selalu berujung pada kekecewaan.
Saya menulis ini berdasarkan pengalaman pribadi mengikuti berbagai lomba jurnalistik di tingkat provinsi, regional, hingga nasional.
Dulu, saya sering mengirim tulisan sekadar untuk “meramaikan”. Tidak ada eksplorasi ide, tidak ada inovasi, tidak ada riset tambahan.
Hanya mengutak-atik tulisan lama agar tampak “lebih dramatis”. Hasilnya? Sudah bisa ditebak: kalah.
Dari rangkaian pengalaman itulah saya mulai berubah. Ketika ada lomba jurnalistik yang ingin saya ikuti, saya pilih untuk mencoba, bukan coba-coba.
Saya turun ke lapangan, mewawancarai langsung banyak narasumber, mengumpulkan data pendukung, dan menelepon sumber-sumber tambahan.
Upayanya jelas lebih berat. Waktu, tenaga, biaya, semuanya terpakai. Tapi itu harga dari sebuah usaha yang layak untuk diperjuangkan.
Alasan terbesar saya berubah sederhana: saya tidak ingin menyesal. Sekarang prinsip saya adalah berjuang sekuat mungkin.
Jika akhirnya tetap kalah juga, saya bisa menerimanya dengan lapang dada. Tidak ada lagi bisikan di hati “seandainya saja kemarin saya lebih serius, mungkin bisa menang…”
Ketika pengumuman keluar dan saya tidak menang, saya bisa menerima bahwa karya peserta lain memang lebih baik, dan itu tidak menjadi beban.
opini Rilis
Tampan Fernando
mencoba
coba coba
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
