Pada Mereka Kita Patut Belajar
lampung@rilis.id
"Tapi saya berfikir, alangkah kasihan para siswa jika menerimanya tidak rutin, sementara kebutuhan mereka tentu setiap bulan” lanjutnya sambil terus menceritakan bahwa pada akhirnya ia bertekad anak-anak tersebut harus disantuni secara rutin, ada atau tidak adanya pencairan.
"Berapa total yang dibagikan setiap bulannya?”
Ketika dia sebut nominal angkanya, saya tercekat seketika.
Sulit membayangkan uang sertifikasi seorang honorer yang belum tentu cukup untuk membiayai keluarga dengan 3 anak tapi lebih dari separonya justru disantunkan kepada anak yatim. Belum lagi jika saat jadwal santunan tiba, uang sertifikasi ternyata tidak cair, bagaimana ia menalanginya?
Belum hilang takjub saya, tiba-tiba salah satu guru melanjutkan cerita sambil memeriksa progres ruang kelas belajar lantai 2 yang belum sepenuhnya selesai. Pembangunan sudah berjalan 2 tahun, dan akumulasi donasi yang bersumber dari tokoh yang saya ceritakan ini membuat saya tercekat untuk kesekian kalinya.
Kini amalan langit yang ia lakukan diikuti para guru sehingga ia hanya menggenapkan saja dari angka yang sudah terkumpul dari para guru yang membersamainya dalam program santunan ini. Pun pembangunan ruang kelas belajar memancing dukungan sehingga para guru tak lagi takut membanting uang honor yang tak seberapa untuk ikut disumbangkan demi mewujudkan tujuan mulia.
Melakukan kebajikan dengan cara nekad sebagaimana diteladankan tokoh spesial ini tentu tak mungkin dilakukan tanpa keyakinan paripurna akan Tuhan demi mewujudkan keadilan sosial sebagai mana salam yang selalu diucapkan.
Selamat mengamalkan Pancasila! (*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
