Meruwat Akal Sehat tentang Radikalisme

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

20 Januari 2020 08:39 WIB
Perspektif | Rilis ID
Gunawan Pharrikesit, Advokat dan Pemerhati masalah Sosial, tinggal di Bandarlampung. ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/ Kalbi Rikardo
Rilis ID
Gunawan Pharrikesit, Advokat dan Pemerhati masalah Sosial, tinggal di Bandarlampung. ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/ Kalbi Rikardo

RILISID, — TUAN-TUAN, saya kerap mengetahui melalui koran, televisi, medsos, dan lainnya tentang radikalisme. Herannya, setiap bersinggungan tentang radikalisme , selalu saja menstigmakan pihak-pihak agama tertentu.

Menurut saya ini adalah kekacauan berfikir. Kekacauan retorika pihak-pihak yang sengaja mendorong kelompok atau individu lainnya dengan tuduhan bahwa kelompok tersebut telah melanggar norma-norma yang ada.

Astagfirullah. Saat ini kata dan pemahaman tentang radikalisme, menjadi sebuah dorongan berdirinya fondasi berfikir yang cenderung memutarbalikkan fakta dengan kekuatan tipu daya. Men-judge sebuah kelompok  dengan stempel ekstrem (kelompok keras, kelompok berbahaya).

Mereka-mereka itu tak peduli dengan substansi dari pergerakan yang ditudingnya, yaitu  kelompok agama yang hanya Allah SWT yang berhak men-"stempel" dosa pada umat.

Memang benar. Ada kaidah-kaidah dalam berperilaku di tengah masyarakat yang disebut norma. Bahkan norma inilah yang kemudian menjadi landasan dalam sebuah negara di manapun di dunia ini --yang menjadikannya salah satu landasan terbitnya hukum.

Namun perlu kita sadari, sebenarnya hukum itu sendiri adalah norma. Ada norma lainnya, yakni agama, susila, dan kesopanan. Keempat norma ini yang menjadi benteng terdepan untuk melindungi kehidupan masyarakat Indonesia.

Lantas, kembali kita berhadapan dengan sebuah kata "menakutkan": radikal!

Selalu saja radikalisme ini dijejalkan dalam ruang religius bernama agama . Ironisnya, penghakiman itu kerap ditujukan terhadap pemegang keyakinan keimanan yang saya anut, yaitu agama Islam.

Sesuatu yang menyedihkan kemudian muncul dari sebagian cendekia muslim. Dengan berbagai keilmuan agama yang dipelajarinya sampai menguak tesis berlatar teoritis dan menghantarnya mendapat gelar doktor agama.

Sayangnya, gelar dunia yang diraih justru semakin menjauhkan akidah yang dimiliki sebagai landasan berfikir tentang apa dan harus bagaimana sikapnya untuk menghadang laju perekayasa stigma radikal terhadap kelompok religius Islami.

Menampilkan halaman 1 dari 3
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya