Desa Miliarder

Wirahadikusumah

Wirahadikusumah

6 September 2020 22:15 WIB
Perspektif | Rilis ID
Oleh: Wirahadikusumah
Rilis ID
Oleh: Wirahadikusumah

Sayang, tak banyak saya dapatkan informasi tentangnya. Saya hanya mengetahui pria ini alumnus Pondok Pesantren Sunan Drajat. Ia menjabat Kades Sekapuk sejak 2017 hingga 2023. Dan ia mendapat julukan Ki Begawan Setigi.

Di bawah kepemimpinannya lah, Sekapuk menjadi desa mandiri. Konon kabarnya dahulu mayoritas pekerjaan desa ini adalah buruh tambang kapur. Sebab, desa ini memang dikelilingi gunung berkapur. Bekas tambang kapur itu kemudian dijadikan tempat pembuangan sampah (TPS). Oleh warga sekitar.

Abdul Halim lantas menyulap eks tambang kapur itu. Menjadi destinasi wisata. Bernama Setigi. Dananya dari warga. Yang mekanismenya dengan sistem obligasi saham.

Konsep tabungan saham itu adalah warga desa diminta menabung Rp7 ribu per hari. Dalam sebulan menjadi Rp200 ribu. Kemudian menjadi Rp2,4 juta selama setahun. Saat ini, dana warga yang terkumpul sudah Rp1,69 miliar. Dana itu digunakan untuk membangun fasilitas destinasi.

Dengan konsep seperti itu, warga setempatlah yang menjadi pengusaha kawasan wisata tersebut. Sebab, Abdul Halim tak mau ada investor luar ikut mengelola. Bahkan, ia sempat menolak investor yang akan berinvestasi Rp35 miliar. Di Setigi. Walaupun ia mengaku sempat diimingi sogokan. Dari investor tersebut. Yakni mobil Pajero Sport Dakkar. Dan saham 10 persen.

Tentu tak mudah saat kali pertama ia mewujudkan itu. Pada tahun pertama menjabat kades, ia berusaha meyakinkan warganya.Untuk merubah eks tambang yang jadi TPS itu, menjadi tempat wisata.

Kendati timbul pro kontra, akhirnya warga sepakat. TPS seluas 5 hektare itu akhirnya dirubah menjadi destinasi wisata.

Di kawasan itu kemudian dibuat danau, air terjun, kolam renang, glam camping (glamping). Ia juga mempertahankan bangunan asli. Berupa tebing kapur yang menjulang tinggi. Ada juga berbentuk goa dengan warna yang menarik.

Beberapa konsep pahatan di tebing batu kapur banyak dibantu ahli dari Institut Seni Indonesia, Jogjakarta.

Di sana, dibangun juga masjid. Bernuansa Timur Tengah. Ada pula bangunan menyerupai keraton goa emas. Dengan pintu goa menghadap ke selatan. Tidak ketinggalan arena kuliner dengan menu khas kopi Setigi.

Menampilkan halaman 3 dari 4

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya