Bahasa Lampung di Bawah Bayang-bayang Kepunahan
lampung@rilis.id
-
Bahasa Lampung sebagai salah satu bahasa daerah di Indonesia, meskipun tidak masuk dalam daftar 18 bahasa daerah terancam punah, nampaknya ada di bawah bayang-bayang kepunahan kerena kemunduran jumlah penutur aktif.
Lantas, mengapa terjadi kemunduran jumlah penutur aktif bahasa Lampung? Setidaknya ada beberapa faktor krusial yang menyebabkan fenomena tersebut. Di antaranya globalisasi, minimnya kontribusi pemerintah, dan faktor keluarga.
Globalisasi
Disadari atau tidak, globalisasi yang terlihat banyak memberikan kemudahan dan kesenangan, di sisi lain turut menyeret dominasi dampak negatif.
Dampak besar yang terjadi adalah pergeseran budaya masyarakat. Salah satunya, penggunaan bahasa asing yang menggeser bahasa nasional maupun bahasa daerah.
Mengapa tidak? Di era ini kebutuhan akan bahasa yang dimengerti banyak orang (monobahasa) semakin tak terelakkan bagi masyarakat global. Sehingga, bahasa daerah khususnya mulai terpinggirkan.
Di sektor pendidikan misalnya, keterbutuhan akan bahasa asing jauh lebih mendominasi dibandingkan bahasa Indonesia dan bahasa daerah seperti bahasa Lampung.
Tuntutan monobahasa memang sulit dihindari dan sayangnya tidak dibarengi oleh tumbuhnya sikap bahasa.
Pada akhirnya tak jarang masyarakat tutur malu dan enggan menjadi penutur aktif bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat tutur perkotaan di Lampung, nampak jelas menunjukkan kemunduran penutur aktif bahasa Lampung. Bahkan mayoritas menggunakan bahasa Indonesia dan akhir-akhir ini lebih bangga apabila di-mix dengan bahasa asing.
Bahasa Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
