Bahagia dengan Memaafkan
lampung@rilis.id
Sejak saat itu saya merasa sudah selesai dengan urusan ini. Sampai suatu malam dalam obrolan panjang di teras rumah, saudara sulung saya mengingatkan bahwa saya belum benar-benar menuntaskannya. Menurutnya, saya belum closing rasa ini dengan cara mendeklarasikan pada yang bersangkutan, sebagaimana saya mendeklarasikan pemutihan piutang dahulu.
Deklarasi dalam hal ini menjadi semacam cara melampaui rasa. Sebagaimana jika sedang sakit gigi, setiap hendak salat selalu dihantui kecemasan. Cemas membayangkan rasa sakit dan linu sejak dari berkumur saat berwudu hingga memulai aneka gerakan salat terlebih ketika sujud. Dan semakin dihindari rasa linu itu semakin menjadi jadi.
Sekali waktu saya coba mengabaikan rasa linu tersebut dengan sengaja sujud berlama-lama. Saya berusaha meresapi setiap irama denyutan linu yang bergerak perlahan melewati skala rasa sakit dari yang rendah hingga mentok menyentuh level paling tinggi. Ajaibnya setelah melampaui sensasi puncak linu itu, berangsur-angsur denyutan sakit itu sirna seolah tak merasakan apa-apa lagi.
Begitulah Nelson Mandela melampaui rasa sakit atas segala tindakan aniaya para sipir selama ia di penjara dengan mendeklarasikan pemaafannya. Saat terpilih sebagai Presiden, alih-alih membalas para sipir yang telah menganiayanya, ia malah mengundang mereka sebagai tamu kehormatan di hari pelantikannya. Sikap ini pada akhirnya mendorong terjadinya rekonsiliasi rasial dan penghapusan pengaruh apartheid.
Terlebih jika menelisik beragam teladan perilaku maaf Rasulullah. Salah satunya yang ditunjukan dalam pemaafannya kepada penduduk Thaif yang telah mencemooh bahkan melukai kaki beliau dengan lemparan batu. Hingga Jibril berseru: jika engkau berkenan, niscaya aku perintahkan malaikat penjaga gunung Abu Qubais agar menimpakannya kepada penduduk Thaif.
Alih-alih menerima tawaran tersebut untuk membalas perbuatan mereka, sang uswatun hasanah justru memilih mendoakan agar kelak anak cucu para penghinanya bisa beriman kepada Allah.
Semoga Allah anugerahkan kelapangan hati kepada kita untuk membuka pintu maaf seluas-luasnya kepada sesama sebagaimana teladan Rasulullah dan pesan Alquran Surat Ali-imron ayat 133-134. Wallahu a’lam.(*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
