Bahagia dengan Memaafkan

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

2 Mei 2021 12:20 WIB
Perspektif | Rilis ID
Oleh: Wasril Purnawan (Aparatur Sipil Negara)
Rilis ID
Oleh: Wasril Purnawan (Aparatur Sipil Negara)

Tak terhitung energi yang terkuras untuk mengurus kebencian dan dendam. Saya pernah mengalami langsung. Betapa menderitanya dibelenggu rasa ini hingga belasan tahun. 

Malam itu, sepekan menjelang keberangkatan haji saya bersama istri pada tahun 2012, saya ceritakan kepadanya tentang tiga ganjalan perasaan yang cukup mengganggu. Dua persoalan menyangkut piutang cukup besar dengan teman yang membuat saya tak berhenti berharap dan sisanya terkait dendam dan kebencian pada seseorang. 

Sambil duduk di teras depan rumah saya membuka obrolan.

“Dek, gimana kalau kita ikhlaskan saja utang-utang itu,” usul saya kepadanya.

Seperti yang saya duga, ia nyolot dengan nada tinggi. "Itu kan bukan uang kecil. Giliran minjemin ke orang, nggak bilang-bilang, pas begini baru ngomong. Pokoknya aku nggak setuju!” jawabnya. 

Kendati demikian, setelah melalui obrolan panjang, malam itu saya berhasil mengajaknya untuk menyetujui proyek hati terkait dengan piutang yang sebenarnya sangat mungkin menagihnya. Hanya butuh alasan sederhana untuk menganggapnya lunas. Yakni berhenti berharap seraya bertanya nikmat mana lagi yang kau dustakan? Mengingatnya hanya membuat kesyukuran terhadap apa yang telah diterima menjadi tak sempurna. 

Dengan Bismillah, malam itu juga saya telepon kedua orang tersebut seraya mendeklarasikan bahwa saya telah menganggapnya impas. Malam bersejarah di mana secara rela saya memilih bahagia dengan mengikhlaskannya.

Tetapi tidak dengan dendam dan kebencian itu. Saya tak kunjung mampu memaafkan. Gemuruh di dada dan detak jantung yang mengencang selalu saya rasakan setiap kali mengingat peristiwa itu. Kadang ia muncul saat di kesendirian. Ketika mengendarai mobil atau saat duduk di keheningan. 

Tak jarang secara reflek saya tiba-tiba mengumpat keras seraya melepaskan kesumat itu. Yang lebih unik, kadang saya melampiaskannya dengan menjerit kencang seraya membenamkan kepala di bak air mandi.

Tak jarang ingatan itu juga muncul saat di keramaian. Suhu tubuh terasa memanas seketika. Entah berapa ratus kali sensasi rasa sedemikian itu saya pelihara. Hingga satu masa, entah kapan persisnya rasa itu berangsur-angsur mereda. Sayup-sayup suara lirih di alam bawah sadar saya mengingatkan: "Apa untungnya membalas?”

Menampilkan halaman 2 dari 3

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya