Bahagia dengan Memaafkan
lampung@rilis.id
RILISID, — "Kegiatan paling melelahkan adalah mengurus kebencian,". Demikian refleksi mendiang Prie GS yang sempat diabadikan para penggemarnya dalam sebuah desain kaos.
Tak satu agama atau aliran kepercayaan apapun yang mengajarkan tentang kebencian. Tapi tak sedikit orang beragama yang terbelenggu karena terus memeluk rasa benci.
"Sampai khapas mak nyak haga ngemahapkoni !" (sampai mati saya tak akan sudi memaafkannya).
Begitu sumpah seorang perempuan yang tak pernah mampu menaklukan kebencian pada sosok lelaki yang telah melukainya begitu dalam.
Dan benar, ketika berita tentang kematian mantan suaminya ia terima, tak sedikitpun rona kesedihan tampak di wajahnya. Ia seperti telah mengubur semua kenangan manis masa-masa pernikahan yang hanya seusia jagung.
Luka karena ditinggalkan tanpa kabar saat sedang hamil tua, melahirkan hingga membesarkan anak, sementara ia lenyap tak diketahui rimbanya. Luka itu terus menganga tak kunjung sembuh. Bahkan saat lelaki yang menjadi objek kebenciannya itu telah mati ditelan semesta.
Ini hanyalah satu dari jutaan cerita tentang kristal kebencian yang tak mampu dilumerkan karena pengalaman yang teramat traumatik. Bahkan jika ada yang coba-coba menasehati, jawabannya selalu sama: "kamu bisa ngomong begitu, karena kamu nggak mengalaminya,”.
Membenci dengan alasan yang jelas semacam ini masih dapat dimaklumi. Bandingkan dengan kebencian era 4.0! Lebih parah lagi!
Orang dapat ikut-ikutan membenci tanpa benar-benar tahu alasan kenapa benci. Hanya karena orang lain benci, maka cukup alasan untuk ikut membenci. Setiap saat manusia zaman now rentan terancam virus kebencian. Postingan bernada hate speech yang lalu lalang di layar gawai melalui ragam platform medsos jika tak hati-hati kerap kali menjerumuskan kita menjadi sang pembenci.
Sungguh absurd bukan?
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
