Akhir Kemelut PTPN VII
lampung@rilis.id
BANDARLAMPUNG
Selama enam tahun itu juga, media massa pun ikut menjadi "korban". Tak ada lagi iklan atau advetorial dari PTPN VII menghiasi wajah media. Padahal sebelumnya, hampir sepekan sekali saya melihat logo perusahaan ini ada di media-media massa.
Di kala merugi itu, PTPN VII juga sampai melakukan revitalisasi aset. Memanfaatkan lahan kosong untuk dikerjasamakan dengan pihak ketiga.
Di segmen usaha perkebunan teh, yang berada di Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan, PTPN VII pun sampai menggandeng pihak swasta.
Adalah PT Kabepe Chakra yang digandeng. Pada akhir 2018. Untuk bekerja sama. Mengoperasionalkan lahan seluas 1.500 hektar.
Apa yang dilakukan manajemen dan karyawan PTPN VII itu akhirnya membuahkan hasil. Divisi keuangan mulai mencatat laba.
Perusahaan ini pun terbantu dengan naiknya harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO).
Seperti yang saya kutip dari media online, harga CPO sepanjang pekan ini, sukses mendaki tinggi. Bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 42 tahun silam.
Harga kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia berada di level MYR 6.276/ton pada Jumat (4/3/2022). Sebelumnya, harga CPO mencapai level tertinggi masa (MYR 6.808/ton) sejak 1980.
Dalam sepekan, harga CPO naik 5,2%. Sedangkan sejak awal tahun sudah melesat 33,62%.
Saya yakin, kenaikan harga CPO itu juga, yang menjadi salah satu penyebab PTPN VII keluar dari kemelutnya.
PTPN VII
Wirahadikusumah
Rilis.id
Rilislampung.id
PWI
Ketua PWI Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
