Membedah Algoritma Puitis ‘Satu Ciuman, Dua Pelukan’ Karya Isbedy Stiawan
Gueade
Bandar Lampung
Heri juga membicarakan puisi sebagai algoritma puitis dalam mengupas puisi-puisi penyair berjuluk Paus Sastra Lampung ini.
Dikatakan Heri, buku "Satu Ciuman, Dua Pelukan” adalah puncak mutakhir dari proses kreatif Isbedy Stiawan.
Di sini, sungai bukan sekadar metafora, melainkan algoritma: aliran emosi ketika jatuh cinta, percikan permenungan saat merasakan (atau merayakan) sesuatu, dan epifani pada detik awal inspirasi tiba.
“Taman-tamannya merupakan ruang ingatan yang dihuni oleh segala yang pernah disentuh, dicium, juga dirindukan. Seperti kata Neruda: ‘Cinta begitu pendek, lupa begitu panjang’ — sungguh frasa yang lahir dari kedalaman emosi dan refleksi,” ucap Heri.
Tentang cinta dalam kumpulan puisi terbaru Isbedy ini, dimaknai Ari Pahala Hutabarat sebagai anugerah Tuhan yang diberikan kepada Isbedy.
Yakni, imbuh direktur artistik Komunitas Berkat Yakin (KoBer) Lampung, Isbedy dengan usia tak lagi muda masih selalu membangun dan menghidupkan keterpukauan, jatuh cinta, rasa heran, dan seterusnya.
Karena itu, Ari menyarankan kepada seniman-seniman muda agar menjadikan Isbedy sebagai contoh dalam proses kreatif.
“Isbedy banyak menulis dalam berbagai perjalanan. Ini dapat dilihat dari lokus dan titimangsa puisi. Sepertinya Isbedy merasa tak bisa berkarya jika di kotanya sendiri,” ungkap Ari Pahala yang juga dikenal penyair.
Membaca puisi-puisi Isbedy, masih kata Ari, seperti ada keinginan untuk berjalan dan pulang.
Ia mencontohkan pada puisi “Cerita dari Perjalanan”: apakah aku bisa pulang sedang/jalan masih ingin kubentang?/…/apakah aku bisa terus merantau/sedang keinginan pulang selalu memukau?
Isbedy Stiawan ZS
Puisi
Lampung
Bandar Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
