Membedah Algoritma Puitis ‘Satu Ciuman, Dua Pelukan’ Karya Isbedy Stiawan

Gueade

Gueade

Bandar Lampung

24 Februari 2025 20:56 WIB
Budaya | Rilis ID
Bedah buku puisi karya Isbedy Stiawan ZS di TBL, Senin (24/2/2025). Foto: ist
Rilis ID
Bedah buku puisi karya Isbedy Stiawan ZS di TBL, Senin (24/2/2025). Foto: ist

Menyinggung tema taman dalam buku Isbedy ini, Heri mengurai bahwa taman sebagai simbol dan ruang ingatan.

Taman, katanya, alam konteks ini, jadi ruang di mana 1001 pengalaman baru dituai dan tumbuh lagi. Setiap pengalaman—seperti bunga yang disemai, membentuk ingatan baru. 

Lalu Heri mengutip puisi Pablo Neruda: "Bunga-bunga tumbuh dari luka yang kita siram diam-diam." 

“Proses ini serupa dengan bagaimana ingatan emosional disimpan dan diolah menjadi simbol-simbol puitis,” tegasnya.

Sejumlah penyair lainnya yang mengutamakan taman sebagai simbol dalam puisinya, menurut Heri, antara lain adalah T.S. Eliot, dalam "Burnt Norton", memakai taman sebagai ekspresi waktu yang berlalu sekaligus idiom keabadian.

Berikutnya, Rainer Maria Rilke, senang mengangkat tema taman sebagai ruang refleksi dan spiritualitas.

“Seamus Heaney mengelaborasi taman sebagai wilayah kenangan masa kecil dan refleksi diri bertemu.”

Dikatakan Heri Wardoyo, pengalaman bertahun-tahun juga membentuk jiwa seorang penyair.

Setiap kali penyair menulis, kepekaannya semakin tajam—mirip sungai mengukir lembah, mempercepat transmisi ide dan perasaan. 

“Langston Hughes, penyair Harlem yang memitoskan Sungai Mississippi sebagai saksi perbudakan, menunjukkan bagaimana konsisten menulis, dengan penuh disiplin, mampu mengkristalkan kepekaan menjadi kata-kata yang tajam,” ujarnya.

Menampilkan halaman 2 dari 4

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

Isbedy Stiawan ZS

Puisi

Lampung

Bandar Lampung

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya