Diskusi di KL Coffee Kotabumi: Puisi-Puisi ‘Menungguku Tiba’ Isbedy Multi Tafsir
Gueade
Lampung Utara
“Kalau Djuhardi membahas pohon ngaceng, maka yang menarik bagi saya pada kalimat ‘aku tak sekokoh batang, aku pilih ini pembaringan'. Menurut saya itu menarik jika tadi kita bicara tema penantian dan kerinduan, dan setiap pembaca bisa menafsir sendiri menurut perspektifnya,” ungkap dia.
Sebelumnya Djuhardi Basri mengatakan, terpenting bagi penyair adalah memilih kata-kata dan menempatkan pada tempat yang tepat. Inilah yang ada pada penyair Isbedy dalam puisi-puisinya.
Djuhardi mengakui kalau mendengar Isbedy menerbitkan buku puisi, pertanyaannya adalah ada apa?
“Ternyata Isbedy bukan saja produktif, tapi juga selalu ada tawaran yang lain dan baru,” katanya.
Masih kata Djuhardi yang juga penyair dan sutradara teater Sangkar Mahmud UMKO, dari judul saja Isbedy telah menempatkan kata yang pas dan multi tafsir.
“Setelah saya membaca, ternyata pada dasarnya kita ini sedang menunggu. Siapa yang menunggu; akukah atau mautkah yang menunggu?” kata Djuhardi.
Jadi, lanjut dia, diksi atau pilihan dan penempatan kata yang pas merupakan pertaruhan besar bagi seorang penyair.
“Dan ini ada pada Isbedy. Dia melalui puisi-puisinya mampu memilih dan menempatkan kata pada tempat yang tepat,” nilai Djuhardi yang disapa mahasiswa Abi itu.
Bagian lain, Djuhardi menyebut Isbedy seperti Putu Wijaya dalam hal produktivitas. Kedua sastrawan ini “gila” menernakkan karya.
Diskusi kemudian jadi menarik dipandu Fitri Angraini yang mampu menggelitik audiens.
Diskusi
puisi
isbedy
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
