Pilu, Balita di Lamsel Ini Divonis Gizi Buruk, Thalasemia Mayor, TBC, Hingga Leukimia

Ahmad Kurdy

Ahmad Kurdy

Lampung Selatan

18 Juni 2021 12:36 WIB
Humaniora | Rilis ID
Ilustrasi/Kalbi Rikardo
Rilis ID
Ilustrasi/Kalbi Rikardo

RILISID, Lampung Selatan — Sungguh pilu nasib Abhan Sultanul Alam, bocah berusia dua tahun warga Desa Kedaton, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) itu harus merasakan derita diusianya yang masih sangat belia.

Meski sekilas terlihat ceria, namun siapa sangka ia mengidap penyakit yang sangat berbahaya. Dokter memvonis Abhan gizi buruk dan Tuberculosis (Tbc). Tak hanya itu, Abhan juga bahkan mengidap penyakit Thalasemia Mayor.

Desi, ibunda Abhan mengatakan, Abhan telah divonis menderita penyakit gizi buruk dan Tbc sejak usia 8 bulan. Kedua penyakit yang menggerogoti itu, mengakibatkan tubuhnya lemah dan kurus kering.

“Umur delapan bulan divonis gizi buruk, habis itu divonis Tbc, dan kemarin anak saya itu divonis lagi Thalasemia Mayor,” kata Desi saat ditemui dirumahnya. Ia terlihat menahan sedih.

Sang anak kini menurut Desi harus rutin melakukan transfusi darah, karena Thalasemia Mayor merupakan penyakit kelainan genetik yang merusak sel darah merah, sehingga darah tidak dapat menyebarkan oksigen ke seluruh tubuh dengan baik.

“Kata pihak rumah sakit, seumur hidup harus transfusi darah terus tergantung hemoglobinnya. Kalau hemoglobinnya rendah dia langsung lemas dan bisa sampai jatuh,” ucapnya lirih.

Belum cukup tiga penyakit, wanita yang sehari-hari berjualan di kantin sekolah itu harus kembali menerima kenyataan usai pemeriksaan dokter lanjutan. Anak laki-laki semata wayangnya itu ternyata juga suspek Leukemia dan secepatnya akan dilakukan pengecekan Bone Marrow Puncture (BMP) atau aspirasi sumsum tulang.

“Divonis suspek Leukemia setelah diperiksa melalui pemeriksaan darah tepi, Senin depan mau BMP periksa leukemianya dari sumsum tulang belakang,” kata Desi menjelaskan.

Karena keterbatasan biaya, Desi berharap ada donatur yang bisa membantu pengobatan anaknya supaya mendapat perawatan lebih insentif. Sejauh ini, tutur Desi, ada saja donatur yang membantu. Seperti jika ingin periksa ke rumah sakit di Bandarlampung, ada relawan dari komunitas Kobar yang mengantar.

Desi juga saat ini tidak lagi bekerja karena sekolah ditutup akibat pandemi. Ia dan anaknya sekarang tinggal dirumah orang tuanya yang juga sudah berusia lanjut. 

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Andry Kurniawan
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya