Kulak Kukut, Film Fiksi Drama Pertama dengan Isu Budaya Pangan Lampung
Adi Herlambang Saputra
Metro
Melalui film yang menjalani proses shoting di Lamteng ini, penonton disajikan tradisi kuliner bernama Nganjar, keindahan destinasi wisata Curup Tujuh di Selagai Lingga, dan penampakan udara Monumen Kopiah Mas.
Puncaknya Film pendek berdurasi 35 menit ini, berhasil menampilkan Gulai Kulak Kukut dalam konsep plating yang menarik.
Sejauh ini, secara konsep presentasi sajian, masakan tradisional Lampung belum mampu ambil bagian dalam gala dinner even wisata nasional. Meskipun sebatas Festival Krakatau.
Arif berharap, setidaknya film ini menginspirasi Pemprov Lampung untuk menyajikan masakan tradisional Kulak Kukut kepada Duta Besar perwakilan negara sahabat, di Gala Dinner seperti Festival Krakatau.
Sebagai masakan, gulai Kulak Kukut merupakan masakan dengan kompleksitas rasa yang mewah.
"Sejauh ini, hanya Gulai Kulak Kukut yang dapat memadukan rasa tanah dari jamur dan aroma asap menjadi satu kesatuan sempurna pada gurihnya santan kelapa," jelas Arif.
Musik pengiring adegan film serta penghubung antara scene satu dan lainnya, dikomposisikan dengan melibatkan kombinasi alat musik tradisional Lampung.
Sebagai komposer, Oktavian Aditya terbilang sukses mengkombinasi Talo Balak, Gambus dan Serdam. Selain ritme gitar tunggal, sastra lisan seperti Dadi juga dikomposisikan dengan apik. (*)
Kulak Kukut 2022
Film Lampung
Fiksi Drama
Isu Makanan Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
