Kulak Kukut, Film Fiksi Drama Pertama dengan Isu Budaya Pangan Lampung
Adi Herlambang Saputra
Metro
RILISID, Metro — Jejamo Media Production, menggarap proyek film berjudul Gulai Kulak Kukut 2022. Film tersebut merupakan produksi pertama yang mengangkat isu makanan di Lampung.
Tidak main-main, penulis skenario filmnya seorang sastrawan sekaligus pegiat budaya Lampung Arman Arifin Zainal atau akrab disapa Arman AZ. Menurutnya, film itu menempatkan masakan khas Lampung Tengah (Lamteng) sebagai sentra pada film
Produser film Gulai Kulak Kukut 2022 Arif Surakhman mengatakan, film itu bergenre fiksi drama. Pada ceritanya, Kulak Kukut menguatkan ketertarikan antar tokoh pada film tersebut.
"Pada film itu, yang mengalami ketertarikan yakni Ainun (Rebecca Ginting), Rozali (Gilbran Ibrahim), dan Raden Harun (Humaidi Abas)," kata Arif kepada Rilis.id Lampung, Senin (26/12/2022).
Film tersebut imbuh Arif adalah puncak ketersinggungan batin. Dimana Lampung sebagai penghasil rempah terbaik dunia, justru tenggelam dalam peta kuliner Nasional.
Sebagai film Lampung dengan isu kuliner pertama, tak kepalang tanggung Dede Wijaya meminta Humaidi Abas memerankan Kiai Zainal pada Hayya 2: Hope Dream & Reality, berperan sebagi Raden Harun di Film Kulak Kukut.
Film yang didukung oleh Pemkab Lamteng ini menceritakan Ainun, putri tunggal Yusuf Pangeran (Muadin Efuari), membuka rumah makan dengan konsep menu masakan khas daerah. Salah satunya Gulai Kulak Kukut.
Terkenal menjual masakan khas Lampung, Ainun menjadi mentor Chef Restoran Hotel bernama Rozali. Tetapi, seiring waktu Rozali justru memiliki ketertarikan dengan Ainun.
Sementara Ibrahim (Fauzi Subing), Anak lelaki tertua Raden Harun juga sejak dulu menyukai Ainun. Tetapi Raden Harun, orang tua Ibrahim tidak menyukai latar belakang Ainun.
Yusuf Pangeran memperhatikan kedekatan putrinya dengan Rozali. Ia gundah, jika Ainun menikah dengan pria luar daerah. Tetapi satu sisi ia juga tidak menyukai Ibrahim.
Kulak Kukut 2022
Film Lampung
Fiksi Drama
Isu Makanan Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
