Kesenian yang Terasing di Negeri Sendiri
Achmad Eka Saputra
Metro
Menghadapi perkembangan zaman yang sangat signifikan ini, pria yang tidak muda lagi itu mengaku kewalahan. Lantaran eksistensinya sebagai pelukis semakin tergeser karena bersaing dengan teknologi.
Dalam celotehannya, ia bahkan mempertanyakan, "Pelestarian kebudayaan itu merupakan tugas siapa?" cetusnya lirih.
Sebab, kata Evit, meski pelestarian budaya ini merupakan tugas bersama, lanjutnya bercerita, namun tetap pemerintah memiliki peran terbesar untuk menjaga dan melestarikannya.
Oleh karenanya, ia bersama seniman lokal lainnya mengaku siap mendukung pemerintah Kota Metro yang sedang gencar melakukan upaya pelestarian budaya.
"Karena kalau kami itu ada 5 faktor penunjang profesi ini, satu kritikus (yang menilai), kurator (pembina), ruang kontemplasi (ruang untuk mengaktualkan diri), pelaku/seniman dan ketersedian bahan seni," paparnya.
Terakhir ia berharap agar Metro memiliki semacam pasar seni untuk para seniman yang jumlahnya makin sedikit tetap diperhatikan dan memiliki ruang untuk mengaktualisasikan diri. (*)
Metro
seni yang dilupakan
Seni Rupa
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
