Kesenian yang Terasing di Negeri Sendiri

Achmad Eka Saputra

Achmad Eka Saputra

Metro

11 Juni 2023 18:26 WIB
Humaniora | Rilis ID
Salah seorang seniman lukis di standnya, di Kota Metro, Minggu (11/06/2023). Foto : Achmad Eka Saputra
Rilis ID
Salah seorang seniman lukis di standnya, di Kota Metro, Minggu (11/06/2023). Foto : Achmad Eka Saputra

RILISID, Metro — Bicara soal seni, tentu hal itu sudah tak asing di telinga masyarakat. Berbagai produk seni di nusantara pun kerap menjadi saksi bisu perkembangan peradaban manusia dari zaman ke zaman. Sayangnya, saat ini begitu banyak hasil kesenian yang berangsur dilupakan dan semakin tenggelam, hanyut dalam waktu. 

Hal itu diungkapkan salah seorang pelukis, Evit Setiawan, saat ditemui Rilis. Id di stand-nya, di Kota Metro, Minggu (11/6/2023). 

Pria kelahiran asli Metro itu menyampaikan kegusarannya dengan perkembangan zaman saat ini sambil tetap melakukan aktivitasnya mengayun-ayunkan kuas pada kain kanfas putih yang berada di depannya. 

Dari guratan kuasnya, tampak jelas hasil gambaran pemandangan suasana hutan dengan aliran sungai kecil didalamnya. 

Pria yang akrab dengan panggilan Evit Wong Mayong itu terus melanjutkan aktivitasnya dan nampak tidak lelah meski beberapa tahun kebelakang terbilang ia tidak menuai hasil seperti yang diharapkan. 

Ia pun sedikit menceritakan perjalanannya selama menekuni profesi pelukis. Dari tangannya telah banyak karya seni yang dihasilkan.  Meski akhirnya hasil dari melukis itu tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya. 

"Saya sudah sejak Tahun 2000 mas, dulu pertama kali ikut di Sanggar Mitra Satata. Dulu juga pernah beberapa tahun di Pasar Seni Enggal. Tapi itu tidak lama hanya 2 tahun saja," terangnya. 

"Kalau karya lukis yang sudah terjual banyak mas, harga paling mahal dulu yang pernah jual satu lukisan itu mencapai Rp15 juta," sambungnya. 

Untuk menyiasati kebutuhan hidup sehari-hari, tak jarang terkadang ia bersama rekan pelukis lainnya melakukan aktivitas diluar profesinya itu untuk dapat mencukupi kebutuhan makan-minum. 

"Dulu sempat jual nasi uduk juga mas, karena kan dirumah butuh beras. Makanya kadang kami sebagai seniman itu merasa bukan pilihan tapi dipilih," kata Evit. 

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Juan Santoso Situmeang
Tag :

Metro

seni yang dilupakan

Seni Rupa

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya