Singkong dan Luka Harga: Ikhtiar Gubernur Mirza Mencari Jalan dari Hulu ke Hilir

Rimadani Eka Mareta

Rimadani Eka Mareta

Bandarlampung

24 Januari 2026 10:32 WIB
Breaking News | Rilis ID
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal bersama Direktur Utama Rilis ID, Wirahadikusumah saat menjalani Podcast di Kantor Gubernur/foto: rima
Rilis ID
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal bersama Direktur Utama Rilis ID, Wirahadikusumah saat menjalani Podcast di Kantor Gubernur/foto: rima

“Kalau industri butuh bahan baku, petani didorong memperluas lahan, bukan meningkatkan produktivitas. Akibatnya lahan luas, tapi hasil per hektare rendah,” ujarnya.

Gubernur Mirza menyebut fluktuasi harga global pasca-COVID semakin memperparah kondisi petani. Di Lampung, rata-rata petani hanya menghasilkan sekitar 20 ton per hektare dengan pendapatan sekitar Rp12 juta per panen atau sekitar Rp1 juta per bulan. Sebaliknya, petani di negara lain mampu menghasilkan 35–40 ton per hektare dengan pendapatan jauh lebih besar.

“Ini bukan pertama kali terjadi. Setiap harga naik, semua menanam. Ketika harga jatuh, petani yang paling menderita. Pola ini terus berulang karena ekosistemnya belum terintegrasi,” jelasnya.

Pada awal 2025, gejolak pasar dunia kembali menekan industri dan petani. Jika industri dipaksakan membeli dengan harga tinggi, industri kolaps. Jika harga ditekan, petani mati. Menurut Mirza, situasi inilah yang menuntut solusi jangka panjang, bukan kebijakan sesaat.

Sebagai langkah awal, Pemerintah Provinsi Lampung bersama petani mendorong penutupan keran impor tapioka. Mirza menegaskan, rendahnya harga singkong bukan semata karena pabrik enggan membeli, melainkan karena tekanan impor.

“Begitu impor ditutup, harga mulai bergerak naik. Semula harga tapioka kita Rp5000, sekarang sudah Rp7.500. Ini membuktikan masalahnya memang ada di struktur pasar,” katanya.

Pemerintah kemudian memberi waktu kepada industri untuk menyerap tapioka nasional. Pada Oktober–November, harga mulai membaik. Namun, Mirza menegaskan hal itu baru tahap awal.

“Ini baru bab pertama. Tantangan berikutnya adalah industri turunan lain juga harus ikut menyesuaikan,” ujarnya.

Ia meminta waktu maksimal satu tahun untuk meningkatkan produktivitas petani. Dengan produktivitas yang lebih tinggi, harga akan lebih stabil dan daya saing Lampung meningkat.

Mirza menekankan pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya bertumpu pada sektor primer. Industri harus menjadi penarik sektor komoditas, sehingga seluruh rantai nilai—petani, industri, hingga produk jadi—harus terhubung.

Menampilkan halaman 2 dari 3

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Rimadani Eka Mareta
Tag :

Gubernur Lampung

Rahmat Mirzani Djausal

singkong

harga singkong Lampung

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya