Bank Indonesia Sebut Inflasi Lampung di Awal 2025 Masih Terjaga
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Adapun peningkatan harga minyak goreng didorong oleh kenaikan permintaan pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Nataru dan Imlek, serta sejalan dengan kenaikan harga CPO yang dipengaruhi dinamika pasokan dalam kondisi cuaca yang kurang kondusif dan kebijakan domestik penerapan program B40.
“Ke depan, Provinsi Lampung memprakirakan bahwa inflasi IHK di Provinsi Lampung akan tetap terjaga pada rentang sasaran infiasi 2,511 (yoy) sepanjang tahun 2025,” ujarnya.
Namun, terdapat beberapa risiko yang perlu dimitigasi, antara lain dari Inflasi Inti (core inflation) berupa peningkatan permintaan agregat sebagai dampak dari kenaikan UMP tahun 2025 sebesar 6.5 persen, berlanjutnya kenaikan harga emas dunia akibat ketidakpastian geopolitik dan sentimen kebijakan ekonomi Amerika Serikat.
Selanjutnya, dari sisi Inflasi makanan yang bergejolak (volatile food) adalah peningkatan harga beras pada puncak musim tanam, risiko gagal panen akibat tingginya intensitas hujan dan kejadian bencana alam banjir pada awal tahun.
Adapun risiko dari Inflasi harga yang diatur pemerintah (administered price) adalah kenaikan harga aneka rokok seiring pemberlakuan kenaikan harga jual eceran (HJE) rokok konvensional dan elektronik dan kenaikan harga BBM non subsidi
Meninjau perkembangan inflasi bulan berjalan dan mempertimbangkan risiko inflasi ke depan, BI dan TPID Provinsi Lampung akan terus melanjutkan upaya menjaga stabilitas harga melalui strategi 4K. yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi efektif. (*)
Bank Indonesia
BI Lampung
inflasi Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
