Ternyata! Defisit Migas Sudah Melonjak 8.600 Persen
Anonymous
Jakarta
Sementara, ekspor tambang yang mengalami peningkatan sejak paruh kedua 2016, justru dalam dua bulan terakhir ikut terkoreksi 15,3 persen dari US$2,7 miliar (Desember 2017), menjadi US$2,3 miliar (Februari 2018).
Bahkan, ekspor pertanian mengalami penurunan yang lebih tajam sebesar 25,6 persen dalam tiga bulan terakhir. Manakala ekspor manufaktur tumbuh lemah 12 persen dalam setahun terakhir (Maret 2017-Februari 2018), sedangkan impor tumbuh lebih cepat sebesar 18,7 persen pada periode yang sama. Mirisnya, dalam tiga bulan terakhir pula impor tumbuh 23,7 persen.
"Peningkatan impor ini sebagian besar (75 persen), didorong belanja bahan baku dan bahan penolong, yang merupakan indikasi terjadinya peningkatan aktivitas industri manufaktur di dalam negeri. Sayangnya, hal ini juga menunjukkan tingginya tingkat ketergantungan industri domestik terhadap bahan baku impor," tandasnya.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menilai, kinerja neraca perdagangan Indonesia Februari 2018 mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Meski tetap mencatatkan defisit, namun angkanya lebih baik yakni defisit US$120 juta, lebih rendah dibanding defisit Januari yakni US$760 juta.
Defisit neraca perdagangan migas menurun seiring meningkatnya ekspor di tengah stabilnya impor. Defisit neraca perdagangan migas per Februari 2018 tercatat turun dari US$940 juta pada Januari 2018 menjadi US$870 juta. Perkembangan tersebut, utamanya dipengaruhi ekspor migas yang naik US$70 juta (month to month/mtm), terutama ekspor minyak mentah.
Baca: Neraca Perdagangan Masih Defisit, BI: Ada Perbaikan
"Sementara, impor migas tercatat stabil sekitar US$2,26 miliar. Secara kumulatif, neraca perdagangan migas mengalami defisit US$1,8 miliar, relatif sama dengan kumulatif defisit periode 2017," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman di Jakarta, Kamis (15/3/2018).
Bank Sentral memandang, perkembangan neraca perdagangan Februari 2018 tetap positif dalam mendukung kinerja perekonomian. Defisit pada neraca perdagangan tidak terlepas dari peningkatan kegiatan produksi dan investasi, sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik.
"Ke depan, kinerja neraca perdagangan diperkirakan terus membaik seiring berlanjutnya pemulihan ekonomi dunia dan harga komoditas global yang tetap tinggi. Perkembangan tersebut akan mendukung perbaikan prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja transaksi berjalan," tandasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
