Ternyata! Defisit Migas Sudah Melonjak 8.600 Persen
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Tren defisit minyak bumi dan gas (migas) yang cenderung bakal melebar ke depan, menjadikan struktur neraca perdagangan Indonesia rentan mengalami defisit. Bahkan, tercatat sejak 2016-2018 defisit migas telah melonjak hingga 8.600 persen.
Risiko pelebaran defisit migas sendiri, didorong kenaikan harga minyak mentah dunia dan peningkatan volume impor migas, untuk antisipasi kebutuhan Hari Raya Lebaran.
Sementara itu, ekspor komoditas sawit yang menjadi andalan utama kita, tengah menghadapi berbagai ancaman proteksi di beberapa negara, khususnya Eropa, Amerika dan bahkan negara importir terbesar yakni Indonesia.
"Kondisi ini, menjadi warning bagi pemerintah untuk segera menempatkan upaya peningkatan daya saing industri manufaktur secara komprehensif. Ini perlu jadi agenda utama ke depan," kata Direktur Eksekutif Center of reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal di Jakarta, Jumat (16/3/2018).
Hal tersebut bukan saja untuk memperkuat neraca perdagangan, melainkan juga turut mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Baca: Neraca Perdagangan Defisit 3 Bulan Berturut-turut, CORE: Ini Serius
Diketahui, defisit perdagangan dalam tiga bulan terakhir setidaknya didorong oleh dua faktor, yakni
pelebaran defisit migas dan penyempitan surplus nonmigas.
Pelebaran defisit migas, terjadi akibat peningkatan impor migas yang didorong kenaikan harga minyak dunia. Pelebaran defisit migas sebenarnya sudah terjadi sejak Februari 2016, sejalan dengan harga minyak yang mulai bergerak naik dari US$30 per barel pada Januari 2016 menjadi US$64 per barel pada Februari 2018, bahkan sempat menyentuh di atas USS$70 per barel pada Januari lalu.
"Akibatnya, defisit migas Februari 2016 yang hanya US$10 juta, meningkat menjadi US$870 juta pada Februari 2018, atau meningkat 8600 persen," ungkapnya.
Di sisi non-migas, ekspor manufaktur sejak Januari 2016 mengalami tren kenaikan. Namun, dalam tiga bulan terakhir mengalami kontraksi sebesar 11 persen dari US$11,5 miliar (November 2017) menjadi US$10,3 miliar (Februari 2018).
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
