Sudah Panen Sejak Maret, Jawa Barat Diprediksi Bakal Hasilkan 1,3 Juta Ton Padi
Elvi R
Jakarta
RILISID, Jakarta — Kabar baik datang dari sejumlah wilayah pertanian di Jawa Barat, pasalnya di tengah pandemi COVID-19, petani di wilayah Cianjur, Majalengka, Indramayu dan Cirebon tetap melaksanakan panen padi. Gelar pahlawan pangan tentu cocok disandingkan kepada para petani yang tetap semangat bekerja untuk menjaga ketersediaan pasokan pangan untuk seluruh masyarakat.
Hasil pemantauan tim Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jabar, di Desa Cikulak Kidul, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kelompok Tani (Poktan) Harapan Maju, menghasilkan 12,84 ton per hektare Gabah Kering Giling (GKG) dari lahan yang di tanami varietas Mekongga. Sementara dari lokasi lainnya di Cirebon yakni Desa Jatirenggang, Kec. Pabuaran, Poktan Mekar Jaya 1 yang menanam varietas Inpari 32 menghasilkan 7,04 ton per hektare GKG. Sementara itu Poktan Buyut Lurah di Desa Bantarjati, Kec. Kertajati, Kab. Majalengka memberikan hasil 8,3 ton per hektare yang di tanami varietas Inpari 32. Sementara pada lokasi lain di Majalengka, Poktan Ragasuta di Desa Babakan, Kec. Kertajati, memberikan provitas 8,5 ton per hektare. Tak mau kalah Poktan Subur Tani, Desa Bojongpicung, Kec. Bocongpicung, Kab. Cianjur, memberikan hasil sebesar 9,2 ton per hektare GKP.
Tim BPTP Jabar juga melaporkan, panen padi juga terjadi di wilayah Indramayu yang selama ini telah dikenal sebagai penghasil utama beras. Diperkirakan luas lahan yang dipanen kurang lebih 1.000 hektare yang terletak di 4 desa dengan lokasi kecamatan yang berbeda di Kabupaten Indramayu. Lokasi tersebut tepatnya di Desa Suklasamet, Kecamatan Kroya, Desa Sanca dan Desa Gantar di Kecamatan Gantar dan Desa Sidadadi, Kecamatan Haurgeulis.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Indramayu Takmid mengatakan, pada 2019 produksi padi di Kabupaten Indramayu tertinggi di Jawa Barat. Berbagai bantuan telah diterima dari Kementerian Pertanian seperti bibit, mesin penggilingan dan bantuan asuransi hingga dana Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Diperkirakan panen raya padi akan berlangsung hingga bulan April mendatang, karena padi yang ditanam diakhir tahun 2019 telah masak dan siap untuk dipanen," ujar Takmid.
Lebih lanjut Takmid menyampaikan, petani di Indramayu masih banyak yang menanam padi dengan varietas Sintanur dikarenakan perbedaan harga antara varietas Ciherang di mana harga gabah Rp 4.300 per kilogram Gabah Kering Panen (GKP) dan varietas Sintanur harga gabah mencapai Rp 5.500 per kilogram GKP.
“Varietas Sintanur termasuk padi aromatik dikarenakan gabah dan berasnya identik Pandan Wangi Cianjur. Oleh karena itu, petani lebih familiar menyebutnya padi pandan wangi. Selain itu sebagaimana diungkapkan sebelumnya bahwa di tingkat pedagang varietas Sintanur gabahnya dihargai cukup tinggi,” ucapnya.
Saat dimintai keterangan, Kepala BPTP Jabar Dr. Wiratno mengatakan panen padi ini sudah berlangsung sejak Maret dan diperkirakan panen tetap berlangsung sampai dengan Juni nanti.
"Prediksi puncak panen padi akan ada di bulan April dengan perkiraan total hasil panen padi sekitar 1,3 juta ton," katanya.
Dia juga menjelaskan, tak hanya padi, Jabar-pun juga tengah bersiap mau panen panen Jagung. "Produksi Jagung Jabar juga baik, sejak Maret sudah panen, perkiraan dalam bulan Maret ini kita menghasilkan 258 ribu ton, sementara April 216 ribu ton", urainya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
