Optimalkan Fungsi Embung, Balitbangtan Gelar Bimtek
Anonymous
Pekanbaru
RILISID, Pekanbaru — Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Balitbangtan Kementan) mengadakan bimbingan teknis (bimtek) "Pemanfaatan Embung dan Bangunan Air Lainnya un??tuk Irigasi Pertanian" di Aula Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau, Pekanbaru, Senin (14/5/2018). Kegiatan digelar untuk menghadapi musim kemarau sekaligus menindaklanjuti Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2018.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai unsur. Di antaranya, dosen dan mahasiswa Pascasarjana Universitas Riau (Unri), Bidang Sarana dan Prasarana (Sapras) Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Riau, staf dan penyuluh Dinas Pertanian (Distan) Kampar, serta peneliti dan penyuluh BPTP Riau.
?Hingga 2019, sinergi Kementan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) telah membangun lebih dari 5.500 embung/dam parit, baik ukuran kecil maupun sedang se-Indonesia.
?
"(Sebanyak 5.500 embung itu) sebagai model percontohan dalam membangun sekitar 30 ribu buah di seluruh Indonesia dari dana desa, atas instruksi presiden yang tertuang dalam Inpres Nomor 1 Tahun 2018," ujar Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat), Dr. Harmanto, M Eng, saat acara.
Dia menambahkan, ada tiga prasyarat dalam pembangunan embung, dam parit, maupun long storage, agar bermanfaat dan berfungsi secara berkelanjutan. Yakni, memiliki sumber air sebagai suplesi utama, terdapat hamparan sawah/lahan yang akan diairi, serta ada kelompok tani atau gabungannya sebagai pelaku pembangunan dan pengelola.
Kementan melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) dan BPTP se-Indonesia, telah mengidentifikasi lokasi-lokasi pembangunan embung dan bangunan air lainnya di lahan kering/ tadah hujan untuk irigasi empat juta hektare. Lokasi itu telah dikompilasi dalam basis data digital sistem informasi Strategi Intervensi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Sipperdes) dam dibangun hingga 2019.
Narasumber lainnya, Dr. Budi Kartiwa, CESA, menyampaikan, pembangunan embung menggunakan metode survei identifikasi desain (SID). Pembuatan desain (ukuran, bahan, dan jenis bangunan), rincian anggaran biaya (RAB), dan lokasi yang tepat, dikaitkan dengan areal sawah/lahan layanan irigasi menggunakan aplikasi Avenza.
Hasil praktik lapangan dengan para peserta bimtek, embung tak cocok dibangun di Riau karena sebagian besar daerah rawa dan pasang surut. Sehingga, selalu ada masalah kekeringan dan kebanjiran.
Yang lebih tepat dibangun adalah long storage, dengan membangun pintu air, polder memanjang untuk menampung air, dan digunakan pada musim kemarau dengan pompa air bantuan pemerintah.
Sedangkan narasumber lain dari Balitklimat, Dr. Nono Sutrisno, memaparkan pentingnya pemanfaatan embung dan bangunan air lainnya yang telah dibangun, agar saat musim kemarau terisi air dan digunakan petani sebagai air irigasi.
Dia juga menekankan pentingnya perawatan dan pemeliharaan embung dan bangunan air lainnya. Nono menyarankan kelompok tani atau himpunan kelompok pengguna dalam kelembagaan profesional yang melakukan pemeliharaan.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
