Komisi XI: Gubernur Baru BI Bisa Stabilkan Rupiah
Nailin In Saroh
Jakarta
Selain itu, inflasi dari sisi impor pun semakin tinggi jika nilai tukar terdepresiasi. Impor BBM akan mahal dan menyebabkan defisit neraca transaksi berjalan yang semakin lebar.
Depresiasi Rupiah pun dinilai akan menyebabkan harga barang−barang impor pun semakin mahal. Padahal sebagian besar bahan baku industri masih dari impor. Jelas ini menyebabkan harga barang−barang industri mahal dan semakin menyengsarakan rakyat, yang pendapatannya pas−pasan.
“Kenapa nilai tukar kita itu sangat gampang goyang dan langsung lemah? Bahkan dibandingkan negara tetangga. Ini yang harus diperhatikan oleh Gubernur BI ke depan, karena nilai tukar memiliki kaitan erat dengan variabel−variabel makro ekonomi lainnya," tegasnya.
Alasan yang selama ini sering diterima terima, adalah Rupiah perlu menjaga keseimbangan baru.
"Namun yang terjadi, keseimbangan Rupiah yang lemah dan merugikan perekonomian. Semua masalah diatas harus mampu dijawab oleh Gubernur BI baru. Apalagi, calon gubernurnya lahir dari rahim BI dan saat ini menjabat anggota Dewan Gubernur yang bertanggung jawab tentang moneter,” sambung dia.
Sebagaimana diketahui, Presiden telah mengirim nama calon tunggal pengganti Gubernur Bank Indonesia yang akan selesai Mei mendatang.
Menanggapi hal tersebut, Ecky menambahkan, memang tidak ada larangan bagi kepala negara mengajukan satu nama.
“Sebelumnya, calon tunggal pun pernah diajukan. Namun, kesemuanya akan kembali ke fraksi-fraksi di DPR, terutama di Komisi XI yang akan melakukan fit and proper test,“ tutup Ecky.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
