Bimtek Pascapanen Pacu Semangat Petani Sayuran Kabupaten Bintan

Elvi R

Elvi R

Jakarta

17 Juni 2019 11:24 WIB
Bisnis | Rilis ID
FOTO: Humas Balitbangtan
Rilis ID
FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Pulau Bintan yang merupakan salah satu gugus dari Kepulauan Riau adalah salah satu lokasi prioritas Kementrian Pertanian untuk pengembangan sektor pertanian di wilayah perbatasan khususnya subsektor hortikultura. Selain lokasinya yang dekat dengan Singapura, Bintan  memiliki potensi lahan yang dapat menjadikannya salah satu pensupply sayuran segar ke negara tetangga tersebut.

Sistem pertanian modern terpadu dan berkelanjutan melalui pendekatan kawasan  adalah salah satu upaya yang terus dilakukan oleh Kementan melalui upaya peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi, pengembangan pertanian ramah lingkungan untuk menekan penggunaan bahan kimia sebagai salah satu upaya untuk memenuhi standar ekspor,  pembangunan infrastruktur pertanian untuk mempermudah akses usahatani dan pemasaran, serta perbaikan kualitas dan nilai tambah produk pertanian  melalui pendekatan teknologi panen dan pascapanen. 

Salah satu upaya nyata dalam pembangunan sektor pertanian di perbatasan tersebut adalah  dengan mengadakan bimbingan teknologi  pascapanen yang dilakukan oleh para peneliti Litbang Pascapanen. Bimtek diselenggarakan pada 14 Juni 2019 bertempat di Desa Toapaya Kabupaten Bintan. Diikuti oleh sekitar 20 orang petani sayuran yang berasal dari sekitar lokasi PHO percontohan. PHO tersebut  dibangun di atas tanah salah seorang anggota kelompok Tani Sayur dengan pembiayaan dari Litbang Pertanian. Percontohan PHO  telah dilengkapi dengan fasilitas standar yang diperlukan dalam penanganan segar sayuran, di antaranya bak pencucian meja peniris, meja sortasi dan pengemasan, blower, timbangan  serta showcase sebagai salah satu alternatif penyimpanan yang dapat dilakukan di lapangan untuk mempertahankan kesegaran sayuran disamping penggunaan kotak Styrofoam dengan es batu.

Pengenalan terhadap teknologi pascapanen sayuran mulai dari cara panen yang benar hingga proses kemasan dan penyimpanan. Petani didorong untuk mengaplikasikan teknologi dengan memanfaatkan semua fasilitas PHO yang sudah ada. Salah satu hasil penelitian para peneliti dari Balai Besar Pascapanen Litbang Pertanian, bahwa dengan penanganan sayuran berdaun sesuai SOP yang diperkenalkan, yaitu proses pencucian akar (bagi sayuran yang dipanen dengan akarnya), penirisan, penggunaan kemasan plastic dan penggunaan Styrofoam yang diberi es batu pada dasar kemasan dapat mempertahankan kualitas sayuran tetap layak jual hingga 3 hari. Dengan umur simpan yang lebih panjang tersebut diharapkan kerusakan sayuran yang terjadi menjadi lebih rendah, kerugian petani dapat ditekan. 

Sebagian besar petani sayuran yang mengikuti bimtek, memberikan respon yang positif terhadap adanya  kegiatan percontohan dan bimtek ini. Namun mereka tetap berharap adanya jaminan pasar terhadap produk yang mereka hasilkan. Dengan kualitas sayur yang lebih baik,kemasan yang lebih menarik dan daya tahan produk lebih lama,  sudah sepantasnya  nilai jual akan meningkat.  Untuk itu, dukungan dari Dinas Pertanian Kabupaten Bintan sangat diharapkan. Dinas Kabupaten dapat mencarikan pasar bagi produk-produk bermutu yang dihasilkan oleh para petani-petani tersebut sebelum akhirnya dapat mencarikan peluang pasar ekspor sayuran segar ke negara tetangga terdekat, yaitu Singapura.

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya