Bertengger di Rp15.248, Rupiah Merosot ke Level Terendah Baru dalam Dua Dekade
Elvi R
Jakarta
Sementara itu, di sisi lain, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adinegara mengatakan, Rupiah tergerus harga minyak dan data pekerja AS. Dia memprediksi Rupiah pekan ini akan bertengger diangka Rp15.110 hingga Rp15.240.
"Rupiah akan kembali bergejolak dalam sesi perdagangan pekan ini (8-12 Oktober) dikisaran 15.110-15.240. Pelemahan rupiah terjadi secara konsisten sampai akhir September kendati BI telah naikan bunga acuan dan intervensi cadangan devisa," katanya kepada rilis.id saat dihubungi, Selasa siang.
Dia menyebut, faktor global dipengaruhi oleh Yield Treasury 10 tahun atau surat utang AS yang telah mencapai 3,23 persen. Hal ini menandakan ekspektasi pelaku pasar terhadap ekonomi dunia dalam jangka panjang cenderung memburuk. Investor memburu instrumen utang AS sebagai flight to quality atau mencari aset yang aman. Tingkat pengangguran AS mencapai 3,7 persen atau terendah dari 18 tahun terakhir. Data tenaga kerja AS per September meningkat 134 ribu. Kondisi Full employment ini mendorong lonjakan inflasi dalam jangka pendek di AS sehingga Fed rate diprediksi naik satu kali lagi tahun ini, empat kali di 2019 dan dua kali di 2020.
"Shock dari kenaikan Fed rate membuat investor menarik dana bertahap dari negara berkembang, dan memilih investasi di aset berdenominasi Dolar," ujarnya.
Menurutnya, Dollar index berada di level 95.4 masih berpeluang naik. Ini menandakan era super Dolar masih akan membayangi perekonomian negara berkembang.
Perang dagang AS-Cina makin memburuk setelah negosiasi tidak tercapai. Goldman Sachs menganalisis perang dagang akan menurunkan profit korporasi besar dihampir seluruh dunia secara gradual.
Dari Eropa polemik Brexit dan defisit anggaran Italia menjadi momok yang menakutkan bagi pelaku pasar. Outlook mata uang Euro masih bearish atau melemah terhadap Dolar AS. Harga minyak mentah diprediksi akan melanjutkan rally meski sempat menurun tipis di US$84.16 per barel untuk jenis Brent. Tekanan harga minyak membuat defisit migas melebar pada akhirnya memperburuk CAD.
"Faktor utama pelemahan kurs rupiah hingga akhir tahun adalah kenaikan harga minyak mentah dan tingginya impor khususnya menyambut seasonal Natal dan Tahun Baru di mana penggunaan transportasi meningkat," katanya.
Sementara dari faktor domestik pelaku pasar menunggu rilis data neraca perdagangan September 2018 yang rencananya akan dirilis sekitar tanggal 16 oktober mendatang. Tekanan pada defisit migas yang melebar hingga Agustus tercatat sebesar US$8,3 miliar atau naik US$3 miliar dibanding posisi yang sama tahun lalu.
Penyelenggaraan IMF-World Bank memberi angin segar bagi pelaku pasar terutama sentimen pembahasan mengenai arah kebijakan moneter global dan upaya pencegahan terhadap krisis ekonomi. Sebagai tuan rumah, terdapat beberapa program kerja sama investasi yang akan ditawarkan pada delegasi dari 189 Negara peserta rapat tahunan. Dari sisi penerimaan pariwisata juga meningkat dengan banyaknya turis asing yang datang ke Bali.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
