Balitbangtan Kembangkan Metode Jinakkan CVPD Jeruk
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degenerative) pada jeruk, dikenal dengan nama huanglongbing (HLB), merupakan penyakit paling menakutkan dan mematikan pada jeruk di seluruh dunia. Di Indonesia, banyak daerah sentra produksi jeruk menjadi kenangan serangan CVPD, seperti di Garut, Magelang, Tulung Agung, Bali Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel). Bahkan, saat ini tidak ada provinsi di Indonesia yang bebas dari CPVD dan terus menghadapi ancaman CVPD.
Mengapa hal ini masih berlangsung? Padahal, penyakit ini pertama kali diketahui pada 1940-an. Penyebabnya, serangan patogen CVPD pada pembuluh floem yang baru diketahui setelah serangan lanjut, dan tanaman sesudah mengalami kekerdilan. Penyebaran penyakit ini semakin masif, karena penyakit tak hanya disebarkan oleh vektor kutu loncat saja, melainkan melalui perbanyakan benih mata tempel/okulasi. Penggunaan benih yang tidak sehat, baru akan memperlihatkan gejala setelah tiga tahun dan biasanya tanaman terus meranggas sampai mati. Varietas unggul tahan CVPD sampai saat ini belum tersedia, karena gen ketahanannya pada jeruk tidak tersedia. Karena itu, perlu diupayakan metode untuk mengatasi hal tersebut.
Perakitan varietas unggul menjadi pilihan paling favorit, karena penerapannya mudah dan aman bagi manusia dan lingkungan. Selain itu, sumber ketahanan penyakit ini tidak ada pada jeruk, pengetahuan tentang patogennya juga sangat terbatas, sehingga mempersulit perakitan tanaman jeruk yang tahan CPVD. Penyakit CVPD juga disebabkan oleh Ca. Liberibacter asiaticus, bakteri gram negatif yang hanya hidup pada jaringan pembuluh floem. Bakteri ini menginduksi pembentukan massa callose pada jaringan floem dan pada akhirnya menyumbat pori floem sehingga transport terhambat, dan pada serangan yang sudah lanjut menyebabkan kekerdilan tanaman jeruk. Bakteri ini sulit dikulturkan secara buatan, sehingga sulit untuk mempelajari perilakunya.
Strategi yang dikembangkan Balitbangtan adalah merakit varietas unggul tahan CPVD. Perakitan varietas unggul jeruk tahan CPVD melalui hibridisasi sulit diterapkan, karena sumber gen ketahanan tidak ada. Sebagai alternatif, metode yang dipilih adalah kombinasi mutasi genesis in vitro dengan seleksi in vitro. Sebagai langkah awal, para peneliti Balitbangtan dari BB Biogen dan Balitjestro mengembangkan metode seleksi in vitro menggunakan suspensi kultur buatan patogen.
Menurut Dr Mia Kosmiatin, langkah awal yang ditempuh dalam penelitian ini adalah mencari teknik isolasi dan mengkulturkannya pada formulasi medium yang dapat memepertahankan viabilitas dan patogenisitasnya. Kultur buatan ini digunakan sebagai komponen penseleksi baik secara in vitro maupun in vivo. Teknik inokulasi buatan ini sudah dikonfirmasi dengan pendeteksi cepat CPVD, kit LAMP (Sedang dikembangkan balitbangtan-Balitjestro), deteksi berbasis PCR dan mikrograph dengan mikroskop elektron.
Penelitian menunjukkan hasil menggembirakan. Isolasi dan kultur buatan bakteri ini berhasil mempertahankan patogenisitasnya. Dengan diketemukannya metode inokulasi dan seleksi in vitro, maka jalan untuk merakit varietas unggul baru jeruk terbuka. Saat ini, sudah dimulai perakitan varietas dengan cara menghasilkan keragaman genetik melalui mutagenesis in vitro. Langkah ini telah memperoleh hasil populasi globular embrio somatik, dan nuselar yang sudah ditingkatkan keragaman genetiknya siap untuk diseleksi. Penggunaan teknik in vitro ini, merupakan langkah penting berikutnya dalam perakitan varietas karena mampu menghemat waktu dan biaya yang besar. Semoga langkah lanjutan ini dapat terlaksana dengan baik sehingga diperoleh hasil yang diharapkan yaitu varietas unggul jeruk tahan CPVD.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
