Proyek Riset Bersama UIN RIL-TSU, Bakal Terima Hibah Riset dari Pemerintah Federasi Rusia
Fi fita
Bandar Lampung
Syarat utamanya adalah topik penelitian harus selaras dengan prioritas Strategy for Scientific and Technological Development of Russia.
TSU berhasil masuk dalam lima besar universitas Rusia dengan proyek bersama negara ASEAN.
Riset ini melibatkan tim peneliti dari Laboratorium Material Energi Tinggi dan Khusus, Laboratorium Nanoteknologi Metalurgi Fakultas Fisika dan Teknologi TSU, serta Pusat Riset Kelas Dunia World-Class Research Center “New Special-Purpose Materials” TSU. Riset ini diketuai Prof. Alexander Vorozhtsov, Kepala Laboratorium Material Energi Tinggi dan Khusus sekaligus Direktur World-Class Research Center TSU.
Material polimer yang dimodifikasi nanopartikel antimikroba ini berpotensi digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari perban medis untuk pengobatan luka, luka bakar, luka tekan, hingga ulkus diabetik yang resisten antibiotik.
Dilansir dari laman TSU, peneliti senior Laboratorium Nanoteknologi Metalurgi TSU Olga Bakina, mengatakan, material ini juga bisa diaplikasikan pada masker, pakaian tenaga medis, kemasan pangan, hingga lapisan pelindung di fasilitas umum seperti pegangan di transportasi publik atau gagang pintu.
Bakina menambahkan, tantangan mengobati luka kronis dan memperpanjang masa simpan pangan sangat relevan di Asia Tenggara karena iklim tropis membuat mikroorganisme berkembang biak sangat cepat.
Keterlibatan peneliti Indonesia dengan basis riset yang memadai akan memungkinkan pengujian material baru ini di kondisi tropis, baik di dalam maupun luar ruangan.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Internasional TSU, Artyom Rykun, menjelaskan, nanopartikel antimikroba ini sudah dipatenkan dan digunakan pada pelapis antibakteri serta anti-fouling.
Selain riset utama, tim (peneliti Rusia dan Indonesia) akan menguji lapisan biocidal yang dikembangkan TSU bersama mitra di kondisi tropis, termasuk di perairan Pelabuhan Lampung, air laut, dan bangunan fasilitas medis. Sebelumnya, pelapis ini hanya digunakan di iklim dingin dan sedang.
Jika terbukti efektif di tropis, teknologi ini berpotensi menjadi produk kompetitif untuk melindungi kapal, struktur bawah laut pelabuhan, dan bangunan dari jamur serta mikroorganisme.
Uin ril
universitas islam negeri lampung
mahasiswa uin ril
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
