Jejak Provokasi Belanda di Monumen Pers Solo
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Pekan lalu, saya berkesempatan mengunjungi Monumen Pers Nasional di Kota Solo, Jawa Tengah. Berbeda dengan museum pada umumnya, monumen ini tidak terlalu banyak menyimpan benda-benda bersejarah.
Yang paling banyak ditampilkan justru potongan-potongan koran zaman dahulu yang “diawetkan” dengan cara dipajang di bingkai kaca.
Potongan-potongan koran itu sangat beragam, mulai dari surat kabar era 1800-an yang masih menggunakan aksara Jawa, koran berbahasa Belanda, hingga koran berbahasa Indonesia dengan ejaan lama.
Salah satu potongan koran yang menarik perhatian saya adalah Harian Merdeka, terbitan Minggu, 12 Oktober 1947. Pada masa itu, penjajah Belanda masih bercokol di tanah air, meski Bung Karno dan Bung Hatta sudah memproklamasikan kemerdekaan dua tahun sebelumnya, yakni pada 1945.
Di halaman utama Harian Merdeka itu, terpampang judul headline: “Akan Lebih Boeroek Daripada India?” Ternyata, berita tersebut memuat provokasi Van Mook, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang berusaha melemahkan semangat perjuangan bangsa Indonesia.
Van Mook menyebut bahwa jika Belanda angkat kaki dari Indonesia, maka kondisi negara baru ini akan lebih buruk daripada India, yang baru saja ditinggalkan penjajah Inggris.
Memang benar, setelah Inggris meninggalkan India, negara itu sempat mengalami kekacauan. Wilayahnya terpecah menjadi dua negara: India dengan penduduk mayoritas Hindu dan Pakistan yang berpenduduk Muslim. Dalam proses pemisahan tersebut, konflik berdarah terjadi dan menelan ratusan ribu korban jiwa.
Kondisi itulah yang dijadikan Van Mook sebagai alat propaganda untuk menjatuhkan moral para pejuang kemerdekaan Indonesia.
“Meninggalkan Indonesia? Apa jang telah terdjadi di India (perang saudara) tidak ada artinja kalau dibandingkan dengan apa jang akan terdjadi di Indonesia nanti kalau Belanda akan menarik diri dari Indonesia,” kata dia.
Dalam koran itu, Van Mook juga menyebut jika bukan karena campur tangan PBB yang menghalangi penyelesaian konflik antara Indonesia dan Belanda, maka perjuangan kemerdekaan Indonesia sudah lama selesai.
Monumen Pers Solo
penjajahan Belanda
peran pers
wartawan
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
