Jejak Provokasi Belanda di Monumen Pers Solo

Tampan Fernando

Tampan Fernando

Bandar Lampung

8 Oktober 2025 23:59 WIB
Historia | Rilis ID
Potongan koran Harian Merdeka terbitan 12 Oktober 1947 di Momumen Pers Nasional, Solo. Foto: Tampan Fernando
Rilis ID
Potongan koran Harian Merdeka terbitan 12 Oktober 1947 di Momumen Pers Nasional, Solo. Foto: Tampan Fernando

“Kalau Dewan Keamanan tidak bertindak, soal itu soedah lama selesai. Poen lambat laoen tibalah waktoenya bagi Nederlan oentoek tidak mentjari2 alasan lagi dan lakoekan apa yang haroes dikerdjakan,” kata Van Mook yang dikutip Harian Merdeka dari media Chicago Daily News.

Ia juga menegaskan keberadaan Belanda di Indonesia bertujuan untuk 'menuntun' bangsa ini agar menjadi bangsa yang lebih berderajat (bermartabat).

Pernyataan itu lagi-lagi merupakan bentuk provokasi yang merendahkan bangsa Indonesia, seolah-olah derajat bangsa pribumi lebih rendah dibandingkan penjajah dari Eropa.

Menariknya, pada bagian subhead atau judul kecil pada berita itu, tertulis “Van Mook Menghisap Djempol Lagi” yang merupakan counter narasi yang tajam dari wartawan, serta menegaskan posisi Harian Merdeka yang menganggap celotehan Van Mook itu hanya isapan jempol belaka.

Judul headline dan sub head pada terbitan Harian Merdeka itu membuka wawasan tentang bagaimana perang narasi telah terjadi sejak masa perjuangan kemerdekaan. Belanda menggunakan media untuk melemahkan semangat bangsa, namun wartawan Indonesia melawannya dengan tinta dan tulisan.

Hal ini membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran para jurnalis. Jauh sebelum para pejuang kemerdekaan mengangkat senjata, wartawan telah lebih dulu mengangkat pena, menggerakkan semangat perjuangan dan membakar persatuan rakyat Indonesia.

Kini, sudah delapan dekade proklamasi kemerdekaan. Peran pers tak lagi meng-counter narasi-narasi provokasi penjajah, tapi melawan berita hoaks yang bertebaran di ruang siber.

Dulu wartawan di masa perjuangan melawan penjajahan dengan pena dan keberanian. Insan pers hari ini harus melawan penjajahan baru berupa disinformasi, dan propaganda yang mengancam keutuhan bangsa.

Kunjungan ke Monumen Pers di Solo menyadarkan saya, bahwa gedung itu bukan sekadar tempat mengenang masa lalu, melainkan pengingat abadi bahwa peran media dan kekuatan informasi bisa menentukan arah sejarah. Dan tugas wartawan tetap sama: menjadi benteng kebenaran di tengah kabut kebohongan.

Yang pasti, apa yang diucapkan Van Mook bahwa Indonesia akan bubar saat mereka angkat kaki tidak terbukti. Nyatanya Indonesia merdeka, dan sampai saat ini tetap rukun bersatu. ***

Menampilkan halaman 2 dari 3

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Tampan Fernando
Tag :

Monumen Pers Solo

penjajahan Belanda

peran pers

wartawan

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya