Tensi Kubu Jokowi-Prabowo di 2019 Bakal Berbeda dari 2014

Zulhamdi Yahmin

Zulhamdi Yahmin

Jakarta

7 Mei 2018 12:21 WIB
Elektoral | Rilis ID
Ilustrasi persaingan Prabowo vs Jokowi. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.
Rilis ID
Ilustrasi persaingan Prabowo vs Jokowi. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.

RILISID, Jakarta — Peneliti dari Pusat Penelitian Politik dan Keamanan Universitas Padjajaran, Nanang Suryana, meyakini perang hastag antara kubu Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tak akan meningkatkan polarisasi. 

Menurutnya, tensi politik yang akan terjadi pada Pilpres 2019 nanti tak akan seperti yang terjadi di 2014 silam. 

"Saya melihatnya tidak akan merepitisi tensi di 2014. Karena, perang tagar antara pendukung Prabowo dan Jokowi kala itu sama-sama tujuannya merebut kekuasaan," kata Nanang kepada rilis.id, Senin (7/5/2018). 

Saat ini, imbuh Nanang, yang dilakukan kubu Jokowi adalah bagaimana mempertahankan kekuasaan. Sehingga, Jokowi tidak akan merespons berlebihan terhadap apa yang dilakukan lawan politiknya, termasuk lewat hastag #2019GantiPresiden. 

"Narasi yang dibawa pendukung Jokowi adalah mempertahankan kekuasaan," ujar Nanang.

Dia menilai, hastag #2019GantiPresiden yang saat ini menjadi ramai juga belum bisa dipastikan murni semuanya dari pendukung Prabowo. Apalagi, saat ini masih ada peluang bagi beberapa partai politik untuk memunculkan poros ketiga selain Jokowi dan Prabowo tersebut.

"Tagar #2019GantiPresiden belum clear insentif elektoralnya untuk Prabowo. Selain karena belum ada nama yang dimunculkan, kemungkinan terbangunnnya poros ketiga masih besar peluangnya," paparnya.

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Unknown
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya