Prabowo Kalah di Jabar, Apa Dampaknya?
Budi Prasetyo
Surabaya
RILISID, Surabaya — Pengamat politik Universitas Trunojoyo, Surokim Abdussalam, menyatakan, hasil survei yang menyatakan Prabowo Subianto kalah di Jawa Barat mengejutkan. Alasannya, selama ini Jabar dianggap sebagai basis massa pendukung Ketua Umum DPP Partai Gerindra itu.
"Prabowo bisa unggul di Banten, Jokowi unggul di Jateng, karena faktor proximity. Kebetulan mereka tinggal lama di daerah itu. Kalau Jabar, sebenarnya sedikit mengagetkan karena Jabar biasanya fanatisme dan identitas agama cukup berpengaruh," katanya saat dihubungi rilis.id di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (7/6/2018).
Surokim menerangkan, politik identitas di Jabar relatif berkembang, terutama fanatisme agama. Karenanya, realitas yang "terpotret" dari hasil survei tersebut, dianggap temuan menarik.
"Dan jika Jokowi bisa mengunguli Prabowo di Jabar, itu sesuatu yang menarik," jelas Dekan Fakultas Ilmu Sosial Unijoyo ini. "Politik identitas di Jabar bisa jadi mulai 'mencair'. Saya pikir, itu tren baru dan lumayan mengagetkan," tambahnya.
Menurut dia, kekalahan Prabowo di Jabar bisa jadi diikuti wilayah lainnya. Efek tersebut, bakal berdampak pada peta dukungan di beberapa wilayah di Indonesia.
"Harus diakui, Jabar masih menjadi barometer utama politik nasional dan biasanya punya effect pada daerah lain. di samping karena jumlah pemilih terbesar di Indonesia, selama ini Jabar juga menjadi miniatur atas hasil pemilu di indonesia. Siapa saja yang bisa memenangkan Jabar, biasanya meraih hasil signifikan di tingkat nasional," pungkas Surokim.
Berdasarkan hasil survei Charta Politika, tingkat keterpilihan Prabowo Subianto di Jabar dikalahkan Joko Widodo. Elektabilitas petahan sebesar 38,8 persen dan Prabowo 30,2 persen. Kandidat lainnya paling tinggi dua persen.
Jika duel seperti Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, perolehan suara Jokowi menjadi 46,1 persen dan Prabowo 40,5 persen. "Yang menjawab tidak tahu 13,4 persen," kata Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
