Prabowo Gandeng Anies, Pengamat: Kasihan Warga Jakarta
Zulhamdi Yahmin
Jakarta
RILISID, Jakarta — Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio menilai, Partai Gerindra terlalu terburu-buru bila memutuskan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai cawapres Prabowo Subianto. Bila demikian, Hendri curiga keputusan itu memang sudah direncanakan sejak Pilkada DKI 2017 silam.
"Saya malah curiga jangan-jangan ini sudah di-set sejak awal bahwa Sandi (Wagub DKI Sandiaga Uno) akan menjadi gubernur, sementara Anies maju sebagai cawapres," kata Hendri kepada rilis.id, Senin (7/5/2018).
Bila itu benar, ujar Hendri, maka sama saja Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah mengorbankan suara masyarakat Jakarta. Padahal, Anies juga harus membuktikan dulu keberhasilannya dalam memimpin rakyat Jakarta.
"Menurut saya jangan ditarik seperti itu. Itu mengorbankan suara rakyat Jakarta juga kan," ujarnya.
Dia mengungkapkan, Anies memang memiliki potensi untuk menjadi cawapres dengan elektabilitas yang juga cukup bagus. Namun, Prabowo juga harus mempertimbangkan nama-nama lain yang selain Anies tersebut.
"Prabowo harus mempertimbangkan nama-nama lain yang lebih siap dan lebih berpeluang mendampingi Prabowo. Ada nama Rizal Ramli, juga ada Abraham Samad," paparnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono menyebutkan, Prabowo Subianto-Anies Baswedan berpeluang duet pada Pilpres 2019 mendatang. Menurutnya, Anies bisa menjadi perwakilan dari PKS untuk maju bersama ketua umum partainya.
"Prabowo-Anies sangat berpeluang. Kemarin itu di DKI, PKS perwakilan siapa? Anies Baswedan. Gerindra kan Sandiaga Uno," ungkapnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
