Pilgub Jatim, Ini Saran Pengamat agar Isu SARA Tak Menyebar Jadi Panas

Budi Prasetyo

Budi Prasetyo

19 Januari 2018 10:59 WIB
Elektoral | Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza
Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILISID, — RILIS.ID, Surabaya— Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sholihul Huda, berharap agar kandidat dan kandidat di Pemilihan Gubernur Jawa Timur lebih mengedepankan program kerjanya untuk menggaet pemilih. Karena itu, para pemilih harus diberi pendidikan politik bukan isu SARA yang dapat menimbulka konflik.

"Pilgub Jatim mulai panas. Kontestasi antar kedua kandidat dan tim suksesnya mulai gencer dilakukan untuk mendapat simpati dan dukungan dari masyarakat Jatim. Menurut saya hal itu wajar dan memang harus dilakukan para kandidat, agar masyarakat Jatim tahu program masing-masing kandidat. Dan agar para kandidat dekat dan paham dengan persoalan yang dihadapi rakyatnya. Sehingga masyarakat dapat menentukan pilihan dengan hati nurani dan rasionalitasya, bukan karena SARA (Politik Identitas) atau 'memilih kucing dalam karung' tapi politik programatik," kata Sholihul di Surabaya, Jumat (19/1/2018).

Menurut dia, dengan memunculkan SARA maka situasi Jatim semakin panas karena akan terjadi saling serang antar kandidat dan pendukungnya. 

"Menurut saya SARA sebagai identitas politik adalah modal sosial yang dimiliki semua orang tanpa bisa meminta dan menolak, sehingga tidak perlu dan layak untuk dipertentangkan atau dijadikan bahan buly politik untuk mendapatkan simpati kekuasaan," tambahnya. 

Dia memprediksi isu SARA tetap akan marak dalam Pilgub Jatim. Karena itu,  diharapkan kandidat bisa memahami dan tidak merusak demokrasi di Jatim dengan menggunakan isu tersebut. 

"Saya melihat, politik SARA ini sepertiya masih akan digunakan dlm pilgub Jatim. Hal itu tampak pada ramainya meme berbau SARA kepada kandidat Cagub di media sosial (medsos). Saya berharap kepada semu tim sukses tidak memperluas dan memnfaatkn isu SARA sebagai alat mencapai kekuasaan. Kasihan rakyat Jawa Timur yg sangat toleran ini akan rusak dan mengobatiy sangat lama. Politik SARA akan sangat merusak kualitas demokrasi pilgub Jatim," katanya.

"Kita berharap kepada semua elemen masyarakat, terutama para pemuka agama (NU Muhammadiyah, MUI, LDII, FPI) Jawa Timur untuk terus mengawal dan membentengi dan turut serta menjaga perhelatan Pilgub Jatim agar tidak di rusak oleh isu SARA, sehingga kita benar-benar dapat pemimpin Jatim yang berkualitas dan merakyat," tambahnya. 

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya