Perang 'Hastag' Tak Kunjung Usai, Ini Solusi dari Demokrat

Nailin In Saroh

Nailin In Saroh

Jakarta

7 Mei 2018 11:54 WIB
Elektoral | Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza
Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILISID, Jakarta — Hastag #2019GantiPresiden menjadi masalah nasional usai insiden yang terjadi di Car Free Day beberapa waktu lalu. Namun, politisi Demokrat, Ferdinand Hutahean menilai, semestinya persoalan hastag ini tak perlu menjadi polemik, karena tidak mengandung pelanggaran hukum apapun. 

"Hastag itu tidak ada unsur pidananya, tidak juga ada unsur kebencian terhadap apapun dan terhadap siapapun. Itu hanya bagian dari harapan sebagian masyarakat, tentu masyarakat yang mengenakannya," ujar Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat itu di Jakarta, Senin (7/5/2018).

Menurutnya, hastag itu tidak ada bedanya dengan hastag #2019TetapJokowi. Di mana, keduanya adalah bentuk harapan masyarakat pendukungnya. Demikian juga dengan iklan-iklan Relawan Jokowi yang saat ini ramai di televisi dan baliho-baliho di pinggir jalan, kata Ferdinand, itu justru patut diduga adalah bentuk kampanye dini. 

"Lantas mengapa kemudian perang hastag dan perang harapan ini menjadi polemik nasional yang justru menutupi banyak masalah bangsa sesungguhnya?" tanya Ferdinand heran.

Jika presiden dan jajarannya sibuk mengurusi hastag, lanjutnya, lantas siapa yang akan mengurus dan peduli bangsa. "Jika oposisi hanya sibuk mengejar merebut kekuasaan, lantas siapa yang akan memberi solusi bagi rakyat ini?" katanya lagi.

Ferdinand menilai, suhu politik yang semakin tinggi dan panas ini lebih dikarenakan stigma publik hanya dipecah kepada kubu Jokowi dan Prabowo. Akhirnya, kata dia, energi yang bertolak belakang ini menjadi adu kuat yang justru mengancam keutuhan bangsa.

"Kedua kubu ini menjadi sibuk hanya untuk dirinya. Yang satu sibuk mempertahankan kekuasaan, yang satu lagi sibuk merebut kekuasaan. Rakyat terbelah dan tidak ada yang urus," tegasnya.

Untuk itu, Ferdinand beranggapan, kemunculan poros ketiga dalam pemilu yang akan datang bisa menjadi solusi. Sebab poros ketiga, menurutnya, bukan lagi sekedar urusan kekuasaan, tetapi menjadi penyelamat bangsa dari perpecahan yang lebih tajam. 

"Poros ketiga menjadi kebutuhan bangsa. Poros ketiga menjadi jalan menyelamatkan bangsa. Poros ketiga yang tadinya menjadi jalan alternatif, sekarang justru menjadi jalan yang akan menjadi pilihan utama," jelasnya.

"Saya pikir, Gatot Nurmantyo dengan AHY bisa menjadi pilihan dan menjadi jalan keluar dari konflik dan kemelut yang semakin dalam ini. Ada juga Cak Imin, ada Zulkifli Hasan, ada Yusril, ada Chairul Tanjung yang juga layak di simulasikan menjadi jalan keluar dan solusi bagi polemik yang tak kunjung bisa diselesaikan dengan baik," tambah Ferdinand menandaskan.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Elvi R
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya