Kata Seperti 'Singkong' Tetap Ada, Ini Tugas Berat Moderator

Default Avatar

Anonymous

Bandarlampung

27 April 2018 06:01 WIB
Elektoral | Rilis ID
Sang moderator debat publik kedua, Budisantoso Budiman di Kantor Rilislampung.id, Rabu (25/4/2018). FOTO: RILISLAMPUNG.ID/ Taufik Rohman
Rilis ID
Sang moderator debat publik kedua, Budisantoso Budiman di Kantor Rilislampung.id, Rabu (25/4/2018). FOTO: RILISLAMPUNG.ID/ Taufik Rohman

RILISID, Bandarlampung — Tidak ada persiapan khusus yang dilakukan wartawan senior, Budisantoso Budiman. Jurnalis antara ini didaulat menjadi moderator debat kandidat kedua Pilgub Lampung di Hotel Novotel Bandarlampung, pukul 19.30 WIB, Sabtu (28/4/2018).

"Persiapan biasa saja karena memang sudah ada panduannya dari KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan dewan pakar," ungkap Budi –sapaan akrabnya di Kantor Rilislampung.id, Rabu (25/4/2018).

Menurut Budi, dirinya hanya menjalankan tugas sesuai kesepakatan dan aturan yang sudah disepakati oleh pasangan calon (paslon) dan KPU Lampung.

"Kita ikut aturan. Karena ada permintaan dari KPU kepada pasangan calon melalui LO (liaison officer)- nya agar suasana debat hidup dan kita pastikan materi debat kali ini berbeda," yakinnya.

Tugas moderator lainnya adalah mengeskplorasi visi-misi masing-masing paslon, mengatur agenda debat berjalan sesuai rencana, dan menjaga tidak terjadi debat kusir.

"Contoh, paslon satu menjawab pertanyaan kemudian paslon lain menanggapi. Waktunya harus adil sehingga tidak terjadi debat kusir," tandasnya.

Diketahui, debat kedua nanti mengusung tema Pelayanan Publik dan Reformasi Birokrasi. Pertanyaan cepat masih dipertahankan agar suasana tetap hidup dan memberi warna.

Dewan pakar debat, Rohaini, menambahkan debat kandidat untuk melihat kemampuan seorang pemimpin dalam menyampaikan tanggapan maupun solusi terkini untuk Provinsi Lampung.

"Kita ingin melihat kemampuan mereka. Artinya, ini kan dilihat oleh seluruh masyarakat Provinsi Lampung karena live ditayangkan di tv. Ketika calon menjawab tidak sesuai pertanyaan, biarlah masyarakat yang menilai,” papar dosen Universitas Lampung (Unila) itu.

Semisal dimunculkannya kata ”singkong” dalam debat pertama. Karena ubi kayu itu adalah komoditas yang bagus dan baik saat ini.

”Seorang pemimpin harus luas pemikirannya dan peka dengan lingkungan sekitar," ingatnya.

Dewan pakar lainnya, Feni Rosalia, menimpali pemimpin juga harus tahu macam-macam istilah di era digital ini.

"Istilah-istilah populer semacam e-commerce kita tetap pertahankan. Pastinya yang semua paham," tutup Dosen FISIP unila tersebut. (*)

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya