Gerakan #2019GantiPresiden Dinilai Bahayakan Masa Depan Negara

Zulhamdi Yahmin

Zulhamdi Yahmin

Jakarta

2 September 2018 13:30 WIB
Elektoral | Rilis ID
FOTO: Istimewa
Rilis ID
FOTO: Istimewa

RILISID, Jakarta — Ketua Umum Gerakan Relawan untuk Demokrasi (Garuda) Gideon Wijaya Ketaren, menilai gerakan #2019GantiPresiden bisa membahayakan masa depan negara. 

Menurut relawan Joko Widodo itu, gerakan itu telah menyebarkan kebencian terhadap negara dan anggota masyarakat lainnya. 

'Yang jadi masalah adalah, gerakan ganti presiden itu diarahkan pada mobilisasi isu dan massa untuk menyebarkan kebencian terhadap Jokowi dan negara," katanya melalui siaran persnya kepada rilis.id, Sabtu (1/9/2018). 

Gideon menegaskan, pihaknya tak merasa khawatir persoalan menang dan kalah dalam Pilpres 2019 nanti. Apalagi, menurutnya, Jokowi dan Prabowo Subianto adalah negarawan yang selalu berfikir untuk kebaikan negara.

Namun, dirinya khawatir gerakan #2019GantiPresiden itu nantinya berdampak pada meluasnya kebencian di tengah masyarakat. Akibatnya, muncul keretakan sosial dan semakin melemahnya negara. 

"Maka ini akan menjadi masalah besar bagi negara ini," ujarnya.

Dia sendiri enggan menyebut gerakan #2019GantiPresiden adalah bentuk makar atau bukan. Namun, dirinya menekankan agar semua pihak untuk tetap mengacu pada proses demokrasi. 

"Dalam demokrasi, perbedaan pandangan dan aspirasi itu sah. Hanya saja jangan sebar kebencian," pintanya.

Gideon menilai, Komisi Pemilihan Umum (KPU) memang tidak melarang gerakan #2019GantiPresiden lantaran bukan bentuk kampanye. Apalagi, gerakan itu juga bukan dilakukan oleh peserta dan tim pemenangan pemilu. 

"Ini jelas bukan kampanye. Kalau kampanye, siapa yang dikampanyekan? Tidak ada satupun capres-cawapres yang dikampanyekan dalam gerakan ini" tegas dia.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya