Erick Thohir: Jokowi Ingin Rakyat Nikmati Harga Barang Sama
Sukma Alam
Jakarta
RILISID, Jakarta — Ketua Tim Kerja Nasional pemenangan pasangan calon presiden dan wakil presiden Jokowi-Ma'ruf, Erick Thohir mengatakan, Presiden Joko Widodo saat ini sedang menerapkan konsep Indonesia sentris dalam pembangunan yang dilaksanakan.
Ia mengungkapkan, pembangunan yang dilaksanakan Jokowi bersama wakil Presiden Jusuf Kalla selama hampir lima tahun ini terbukti tidak terpusat hanya di wilayah Jawa atau Sumatera. Pembangunan merambah seluruh wilayah dari desa hingga kota.
"Bapak Jokowi menginginkan masyarakat setara dalam menikmati kemajuan. Harga barang sama, kemudahan dalam berbagai fasilitas pembangunan, tidak ada kesenjangan antardaerah," tutur Thohir, Kamis (20/12/2018).
Menurutnya, Jokowi merupakan figur presiden yang sangat dibutuhkan masyarakat Papua serta daerah lain di wilayah Indonesia Timur. Berbagai pembangunan telah dilaksanakan selama empat tahun masa kepemimpinanya.
"Beliau mendorong berbagai kemajuan melalui pembangunan infrastruktur jalan, listrik, telekomunikasi, hingga program satu harga BBM (bahan bakar minyak), dana desa, kartu Indonesia sehat dan tol laut. Kita butuh beliau memimpin satu kali lagi agar pembangunan lebih maksimal," ujar Thohir.
Ia menyebutkan, seluruh partai koalisi pengusung berkomitmen pasangan Jokowi-Ma'ruf memperoleh dukungan 85 persen dari total jumlah pemilih di Papua Barat.
"Kita berharap, militansi seluruh kader partai, tim sukses juga para relawan terus dijaga agar komitmen itu terwujud," ujarnya seraya menyatakan, Tim Kerja Nasional Koalisi Indonesia Kerja akan terus mengingatkan presiden agar pembangunan di Papua Barat dilanjutkan pada periode kedua pemerintahan Jokowi.
"Saya rasa bapak Jokowi masih memiliki mimpi besar terkait pembangunan di Papua Barat. Selama ini sudah tujuh kali beliau berkunjung ke Papua Barat dan menyerap langsung aspirasi dari masyarakat," ucapnya dilansir Antara.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
