Mahasiswa STIT Mamba'ul Hikam PALI Studi Tiru Filontropi ke NU dan LAZISNU Lamsel
Agus Pamintaher
Lampung Selatan
RILISID, Lampung Selatan — Kunjungan akademik dalam rangka studi tiru pengelolaan filantropi ke Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Lampung Selatan (Lamsel), dilakukan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Mamba’ul Hikam Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Jumat (28/11/2025).
Sebanyak 30 mahasiswa yang dipimpin Rektor Dr. M. Erlin Susri, S.Sos.I., M.Pd.I, diterima di Gedung Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tanjung Bintang.
Dr. M. Erlin Susri mengaku, kunjungan tersebut bertujuan mendalami praktik terbaik PCNU Lamsel dalam mengelola potensi Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) melalui LAZISNU.
“Kami datang ke sini murni untuk studi tiru, terutama mendapatkan informasi detail mengenai kiat dan giat yang telah dilakukan oleh LAZISNU Lamsel hingga sukses seperti sekarang," ujar Rektor.
Ia berharap, kiat dan giat ini dapat diadaptasi dan diimplementasikan untuk mengaplikasikan ilmu ZISWAF yang dipelajari di kampus ke dalam praktik pengelolaan LAZISNU yang terstruktur dan modern.
"Semoga kunjungan ini dapat menumbuhkan jiwa filantropi dan kepedulian sosial yang tinggi pada mahasiswa sebagai bekal pengabdian di masyarakat," harap Dr. Erlin Susri.
Ust. Syaifullah selaku pengurus MWC NU Tanjung Bintang, menyatakan rasa syukurnya atas kepercayaan menjadi tuan rumah dan menjadi kebanggaan bagi keluarga besar NU Lamsel.
"Ini jadi motivasi baru bagi kami untuk lebih meningkatkan pelayanan, kinerja, dan konsolidasi organisasi di tingkat kecamatan," ungkap pria yang akrab disapa Mang Iful.
Sementara itu Kyai Ali Mahmudi selaku Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul 'Ulum, memaparkan secara rinci proses perjuangan LAZISNU Lamsel dalam pengelolaan filantropi yang tidak hanya membutuhkan kejujuran, tetapi juga etos kerja tinggi, kerja tim (Teamwork) solid, serta kemampuan membangun kerja sama serta sinergis dengan berbagai pihak.
"Aspek paling krusial adalah kesadaran bahwa dana yang dikelola adalah uang umat. Oleh karena itu, akuntabilitas dan profesionalisme harus menjadi harga mati dalam setiap program yang dijalankan," tegas Kyai Ali Mahmudi. (*)
Studi tiru
STIT Mamba'ul Hikam
Filontropi
MWC NU Tanjung Bintang
LAZISNU Lamsel
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
