Peringati HAN, BKKBN Ajak Stop Perkawinan Anak
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengajak masyarakat untuk 'Stop Perkawinan Anak' pada Peringatan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli.
Pelaksana Tugas Kepala BKKBN, Sigit Priohutomo, mengatakan konsensus global tentang perlunya penghapusan perkawinan dini, perkawinan paksa dan perkawinan usia anak semakin mengemuka dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data dari UNICEF, 2016, Indonesia adalah negara dengan angka perkawinan anak tertinggi ketujuh di dunia, di mana satu dari sembilan perempuan yang berusia 20 hingga 24 tahun telah melakukan perkawinan pertama sebelum usia 18 tahun dan terdapat 375 anak yang menikah setiap hari.
"Oleh karena itu, BKKBN mengusung tema 'Stop Perkawinan Anak', pada puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2018 ini," katanya di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Minggu (22//7/2018).
Sigit mengatakan, Hari Anak Nasional ini diperingati untuk menjelaskan pentingnya membangun keluarga yang berkualitas dan memiliki ketahanan, ketangguhan dan keuletan yang akan terwujud jika kedua pasangan telah memiliki kesiapan baik fisik, mental bahkan ekonomi.
"Selain itu perkawinan di usia anak memiliki potensi lebih besar untuk mengalami kegagalan dalam membangun keluarga," kata Sigit.
Sigit melanjutkan, peringatan Hari Anak Nasional tahun 2018 ini dimaknai sebagai kepedulian seluruh bangsa Indonesia terhadap pemenuhan hak dan perlindungan anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, dengan mendorong keluarga Indonesia menjadi lembaga pertama dan utama dalam pengasuhan yang berkualitas memiliki pengetahuan, keterampilan dan pemahaman yang komprehensif dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak.
"Sehingga akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang GENIUS (Gesit Empati beraNI Unggul Sehat)," katanya.
Sigit juga menitipkan pesan kepada anak-anak Indonesia, untuk memiliki usaha dan rencana, seperti menempuh pendidikan setinggi-tingginya, rencana untuk mendapatkan/menciptakan pekerjaan, rencana untuk membangun rumah tangga dan tidak cepat nikah, memiliki rencana untuk hidup bermasyarakat dan rencana dalam pelaksanaan kehidupan yang sehat.
"Oleh karena itu, peringatan HAN Tahun 2018 ini merupakan momentum strategis untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya Penghapusan Perkawinan Anak dan Perkawinan Dini serta pentingnya Persiapan dan Perencanaan Berkeluarga bagi Remaja," katanya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
