Menggiurkannya Budidaya Anggrek Bulan
Anonymous
Sukabumi
RILISID, Sukabumi — Anggrek bulan (butefly orchid) merupakan salah satu tanaman hias yang cukup digemari di Indonesia. Berbekal dari budi daya florikultura ini, PT Ekakarya Graha Flora mengembangkan bisnisnya.
Salah seorang pegawai Ekakarya, Cucu, menyatakan lebih dari 10 varietas anggrek bulan dikembangkan di Desa Titisan, Sukalarang, Sukabumi, Jawa Barat.
"Anggrek merah, anggrek putih lidah merah, anggrek lidah kuning, black jack, sakura, putih spot merah, black jack kupu-kupu," bebernya tentang beberapa varietas yang dikembangkan, Selasa (11/9/2018).
Varietas-varietas tersebut merupakan hasil kawin silang, meski bibitnya ada yang impor. Produk Ekakarya didistribusikan ke wilayah Jakarta dan daerah penyangga Ibu Kota untuk yang telah dirangkai. Ada pula yang ke Bali dan belum dirangkai.
"Ekspor ke Singapura. Diekspor saat tumbuh bakal bunga 25 sentimeter," lanjut Cucu. Untuk yang dirangkai, didistribusikan ke Jabodetabek sebanyak 400 batang per hari dan rangkai sekitar 2.500 batang per hari.
Anggrek bulan yang tidak menggunakan pot dibanderol Rp138 ribu per tangkai. Dalam kemasan pot keramik, dijual Rp295 ribu per tangkai.
Pada kesempatan sama, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi, salut dengan budi daya tersebut. Katanya, "Ini jadi inspirasi untuk menjadi pengusaha pertanian, khususnya tanaman hias."
Dirinya meyakini, peluang bisnis florikultura cukup terbuka. Karenanya, Suwandi mendorong masyarakat untuk jeli melihat potensi tersebut.
"Ayo, jangan ragu untuk budi daya tanaman hias. Sudah banyak juga, kok, yang diekspor. Kami sebagai regulator dan fasilitator, pasti siap membantu untuk perizinan dan lainnya. Kami cuma mau kesejahteraan petani meningkat melalui ekspor, sesuai arahan Pak Menteri Amran," pungkasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
