Gaji Megawati Rp112 Juta, Priyo: Malu kepada Mahathir!
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso mengaku kaget ketika mengetahui Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mendapatkan gaji Rp112 juta rupiah per bulan. Angka tersebut diperoleh berdasarkan Perpres Nomor 42/2018 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas Lainnya Bagi Pemimpin, Pejabat, dan Pegawai Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.
"Padahal, gaji Presiden saja hanya menerima penghasilan sebesar Rp62.740.030, sedangkan Wakil Presiden JK setiap bulan hanya mendapat Rp42.160.000. Dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya membaik ini, sungguh tidak elok memberi gaji pejabat sebesar itu,” kata Priyo kepada wartawan di Jakarta, Senin (28/5/2018).
Menurut Priyo, memang ada hak pemerintah memberi gaji kehormatan. Tapi, berdasarkan Peraturan Pemerintah No 75 Tahun 2000 tentang Gaji Pokok Pimpinan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara dan Anggota Lembaga Tinggi Negara serta Uang Kehormatan Anggota Lembaga Tertinggi Negara, disebutkan gaji pokok tertinggi pejabat negara, seperti Ketua DPR, MA, dan BPK, hanya sebesar Rp5.040.000/bulan.
Bahkan, gaji Wakil Ketua MPR, Wakil Ketua DPR, Wakil Ketua DPA, Wakil Ketua BPK, Wakil Ketua MA, dan Wakil Ketua MPR yang tidak merangkap Wakil Ketua DPR, hanya sebesar Rp4.620.000 sebulan. "Ketika melihat gaji Megawati ini, besarannya sangat jauh melebihi rata-rata pejabat tinggi negara lainnya," ujarnya.
Priyo meyakini, cepat atau lambat, publik dan masyarakat luas akan tahu ketidakpantasan ini. Dalam waktu dekat, ia khawatir akan segera timbul pertanyaan yang meluas di masyarakat. “Atas dasar pamrih apa pemerintah memutuskan gaji Megawati sebesar itu? Apakah keputusan gaji besar itu tepat, adil, dan patut?” tanya Priyo dengan sangat keras.
Priyo juga berpendapat, keputusan Presiden Jokowi memberi gaji besar kepada Megawati menjadi sangat paradoks jika dibandingkan dengan keputusan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang memotong gaji seluruh menteri kabinetnya sebesar 10 persen, pada 23 Mei 2018 lalu. Di tengah situasi krisis ekonomi Malaysia yang juga terjerat utang ribuan triliun, Mahathir mencoba mengatasi masalah finansial negaranya dengan memotong gaji.
"Sedangkan Indonesia yang juga terjerat utang dan krisis finansial, malah memberi gaji sangat tinggi kepada Megawati dan BPIP lainnya.
Jika dibandingkan dengan keberanian Mahathir di Malaysia tersebut, menurut Priyo, harusnya bangsa ini sangat malu terhadap keputusan Pemerintahan Presiden Joko Widodo mengenai gaji Megawati sebesar Rp112. “Harusnya, kita bisa belajar dari Mahathir yang berani memotong gaji para menterinya untuk urunan bayar utang luar negeri," pungkas mantan wakil ketua DPR ini.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
