Squidward, Anak Muda, dan para Kelas Pekerja
lampung@rilis.id
-
Serapan tenaga kerja di sektor industri/manufaktur dari kelompok pendidikan tinggi menunjukkan angka yang begitu kecil dibanding sektor jasa. Hanya 17 ribu orang.
Ini membuat penulis penasaran, sesungguhnya ada berapa banyak para insinyur atau sarjana lulusan dari fakultas saintek di Lampung sudah benar-benar melakoni pekerjaan yang linier dengan pendidikan yang diperoleh.
Pertumbuhan industri manufaktur memang masih menjadi pekerjaan berat bukan hanya di Lampung.
Imbas dari sebuah regulasi yang rumit, upah minimum tinggi belum berkorelasi dengan tingginya produktivitas pekerja, maraknya pegawai pemerintah dan masyarakat lokal yang menarik upeti pada pelaku usaha, infrastruktur jelek dan berbagai faktor lain merupakan gambaran umum mengapa pertumbuhan investasi dari sektor industri di Lampung mandek.
Melihat Lampung, jangan-jangan keadaan Squidward adalah keadaan kelompok yang sejatinya memiliki privilage.
Selain sudah memiliki pekerjaan, Squidward adalah pekerja formal yang bekerja dengan jam tetap, tidak terkena terik sinar matahari langsung dan masih bisa bersantai di akhir pekan dengan bermain klarinet.
Bisa dipastikan dari beberapa sudut pandang di atas, lebih banyak lagi keadaan angkatan kerja di Lampung yang lebih terpuruk ketimbang Squidward.
Kelompok tenaga kerja yang lebih terpuruk maupun yang seperti Squidward adalah bak sebuah bom waktu.
Selain karena minimnya realisasi program yang menyentuh para kelompok pekerja, kian hari upah minimum yang diterima vs membayar tagihan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, akan menyadarkan cita-cita masa kecil yang semakin menjauh.
Belum lagi pembahasan yang sudah semakin marak terkait bonus demografi, kecermatan mengambil kebijakan sejak dini kian diperlukan.
Squidward
Anak Muda
Kelas Pekerja
Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
