Sentuhan Hangat Istri Babinsa di Lampung Timur, Jauhkan Anak Desa dari Candu Gawai
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Aktivitas di sana pun beragam, mulai dari pengenalan huruf untuk anak prasekolah hingga kelas sejarah guna menumbuhkan rasa nasionalisme.
Selain ruang kelas, Ihsanudin juga membangun fasilitas bermain (playground) di halaman depan rumahnya.
Tersedia seluncuran, jungkat-jungkit, hingga ayunan besi yang sengaja dihadirkan sebagai daya tarik agar anak-anak betah beraktivitas fisik.
Fasilitas tersebut terbukti ampuh mengalihkan perhatian anak-anak dari ketergantungan terhadap gawai.
Kehadiran “Gudang Aksara” ini pun mendapat apresiasi tinggi dari para orang tua dan wali murid.
Ida, salah satu warga, mengaku merasakan perubahan besar pada perilaku anaknya yang kini lebih kompak dan memiliki jiwa sosial yang baik.
“Sebagai orang tua, kami sangat senang dan terbantu. Waktu bermain anak jadi lebih bermanfaat untuk belajar, dan yang paling penting, ketergantungan mereka terhadap handphone berkurang drastis,” kata Ida.
Saat ini, lebih dari 50 anak dari jenjang TK hingga SD rutin belajar di kediaman sang Babinsa tanpa dipungut biaya.
Beberapa peserta bahkan merupakan anak-anak yang belum pernah merasakan bangku sekolah formal.
Bagi warga, inisiatif tersebut menjadi oase di tengah terbatasnya fasilitas pendidikan nonformal di tingkat desa.
Umi Salmah
babinsa
Lampung Timur
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
